Tag: Jelajah Gizi

Jelajah Gizi 2013 : 3 Hari Dua Malam, Satu Cinta

Pagi terakhir di Pulau Putri, suasana gerimis semakin menambah berat untuk beranjak dari tempat tidur. Ditambah kurangnya tidur akibat semalam masih ngumpul bareng teman-teman sampai dinihari. Rencana snorkeling batal karena hujan malah semakin besar. Sarapan pun baru dilakukan menjelang deadline pukul 10.00. Diputuskan akan check-out pukul 11.00 menuju persinggahan terakhir Pulau Nusa Keramba.

Cuaca reda saat akan berangkat naik kapal. Gagal snorkeling sedikit terobati dengan melihat spot snorkeling di sekitar dermaga yang ternyata bisa juga dilihat dari tanpa perlu menyelam. Memang di sekitar dermaga Pulau Putri ini airnya sangat jernih, walau habis diguyur hujan.

JelajahGiziTiw

Kak @titiwakmar sedang menintip area snorkeling di dermaga Pulau Putri

Tepat jam makan siang kami di Pulau Nusa Keramba. Saya tidak menemukan daratan di tempat ini, lebih banyak bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu dan kolam-kolam ikan yang didirikan di atas laut. Mungkin karena itulah dinamakan keramba yang artinya kolam. Disini juga kita bisa menemukan penangkaran ikan hiu yang masih kecil dan lucu-lucu. Setelah makan siang yang ditemani guyuran hujan yang kembali menderas diadakan acara closing yang menutup rangkaian acara yang sudah berlangsung selama 3 hari 2 malam itu. Tidak terasa ya rasanya baru kemarin kita berkumpul di Dermaga 17 Marina Ancol kini sudah harus kembali berpisah. Dalam acara tersebut juga diumumkan para pemenang lomba live tweet #JelajahGizi, peserta paling aktif dan peserta paling seru.

JelajahGiziHiu

Penangkaran ikan hiu dan ikan bandeng serta baronang di Pulau Nusa Keramba

Pemenang live tweet jatuh pada @nengbiker, @andyputera dan saya. Sedangkan peserta paling aktif yang sangat aktif mengikuti seluruh kegiatan jatuh pada jurnalis @deniyuliansari sedangkan peserta paling seru yang selalu membuat kehebohan di setiap acara jatuh pada @rusabawean.

JelajahGiziSeruAktif

Pemenang Peserta Paling Aktif @deniyuliansari dan Paling Seru @rusabawen

 

Dalam kesempatan tersebut juga diungkapkan ucapan terima kasih dari Sarihusada kepada seluruh peserta baik dari blogger, jurnalis, activation, tim PR dan semua tim yang sudah membantu dan mendukung penyelenggaraan Jelajah Gizi ini.  Acara ini juga merupakan perpisahan dengan Ibu Yeni Fatmawati (Corporate Affairs & Legal Director Sarihusada) yang akan bertugas ditempat yang baru.

JelajahGiziIbuYeni

Selamat bertugas di tempat yang baru untuk Ibu Yeni Fatmawati

Dan akhirnya tepat jam 15:00 kita tiba kembali di Dermaga 17 Marina Ancol setelah mengarungi Kepulauan Seribu selama 3 hari 2 malam. Sedih rasanya harus berpisah dengan teman-teman blogger yang seru-seru. @andyputera dan @multimehdia harus segera ke bandara karena akan melanjutkan  perjalanannya ke Denpasar dan Surabaya.  @Iqbal_Kautsar mengejar kereta malam menuju Jogja, @nengbiker kembali ke Malang, @rusabawean @Sihar_Deanova dan @nesatasyaa kembali ke rumah masing-masing di Jakarta, sedangkan @TraveLafazr dan saya mengejar kereta untuk kembali ke Depok dan Bogor.

JelajahGizBlogger

Inilah 10 Petualang Jelajah Gizi 2013 (Foto : FB Iqbal Kautsar)

Terima kasih kepada PT Sarihusada yang sudah mengadakan acara Nutrisi Untuk Bangsa dengan program Jelajah Gizi ini dan semua pihak yang sudah menyelenggarakan acara ini dengan baik. Program seperti sangat diperlukan untuk lebih memberikan informasi yang lebih luas tentang gizi kepada masyarakat melalui berbagai media (cetak dan online) termasuk dengan melibatkan para blogger dan sosial media.

Dan sebagai bentuk apresiasi saya membuat video trip untuk mengenang kebersamaan kita selama 3 hari, dua malam dan inilah bentuk “ satu cinta” saya terhadap teman-teman semua. Jadi kalau kangen tinggal dibuka aja disini.

 

Salam #JelajahGizi

@harrismaul

 

 

Jelajah Gizi Hari Kedua : Menjadi Anak Seribu Pulau

Terbangun oleh suara deburan ombak yang seakan mengajak untuk melaut. Sebuah pagi di Pulau Putri diawali dengan berburu matahari terbit di ufuk timur. Namun ada mega yang menghalangi. Terlihat begitu pekat awan diujung cakrawala.

Setelah menghabiskan sarapan bersama teman-teman, kami bersiap-siap untuk kembali melaut. Jadwal pertama awalnya akan menuju Pulau Pramuka. Namun karena kondisi cuaca di hujan deras dan tidak memungkinkan maka perjalanan berganti haluan ke Pulau Harapan. Dan dalam waktu setengah jam kami sudah tiba di pulau tersebut.

 

Kegiatan CSR di Pulau Harapan

Kami langsung disambut oleh pak lurah dan dipersilahkan masuk ke aula Kantor Kelurahan Pulau Harapan yang lokasinya persis diujung dermaga. Pak Lurah M. Ali mengucapkan selamat datang dan memberikan apresiasi atas kunjungan ini. Kemudian beliau memaparkan potensi yang dimiliki oleh wilayah Kelurahan Pulau Harapan.

Kelurahan ini terdiri dari 30 pulau, yang terdiri dari 2 pulau berpenghuni dan sisanya pulau kosong dan pulau wisata. Luas daratan sebesar 244, 72 Hektar dengan jumlah penduduk 2.314 jiwa. Potensi wisata yang bisa diunggulkan antara lain jumlah pulau yang dijadikan resort sebanyak 13 pulau, 26 homestay dan 3 katering. Jenis wisata yang dikembangkan adalah diving, snorkeling dan wisata mancing. Pulau Harapan sendiri mempunyai keunikan yang banyak memikat para wisatawan yaitu kita bisa melihat sunset dan sunrise di satu tempat. Tidak percaya? Silahkan coba.

Untuk produk unggulan, kelurahan ini memiliki sentra produksi kerupuk udang, pembuatan kapal kayu, pembuatan alat penangkap ikan, budidaya mangrove dan produksi keripik sukun. Sedangkan program prioritas yang akan dijalankan antara lain : diizinkannya kapal ojeg bersandar di Muara Angke – Jakarta, penyediaan air bersih yang masih terbatas, penyediaan gedung terpadu, penataan jalan lingkar luar sebelah selatan dan penambahan tempat tambat kapal motor. Dan memang benar ketika kami mengelilingi Pulau Harapan di bagian selatan jalan lingkar pulau masih ada yang belum selesai dan kondisinya sangat buruk karena banyak sekali sampah yang menumpuk di tempat tersebut sehingga menimbulkan bau yang kurang sedap dan rawan penyakit. Inilah program prioritas yang harus segera diwujudkan.

Ditengah-tengah presentasi pak lurah tiba-tiba hadir ke dalam aula Bapak Ahmad Junaedi, plt Bupati Kepulauan Seribu. Beliau sangat antusias dengan kehadiran kami dan sedikit memaparkan kondisi dan keadaan Kabupaten Kepulauan Seribu secara umum.

Kepulauan Seribu sangat berpotensi sebagai kawasan wisata, konservasi mangrove dan terumbu karang. Selain itu juga berpotensi untuk budidaya laut seperti rumput laut dan ikan. Kondisi demikian disebabkan oleh banyaknya pulau di Kepulauan Seribu yang jumlahnya mencapai 110 pulau yang terdiri dari 11 pulau berpenghuni, 9 pulau wisata dan sisanya pulau pribadi dan pulau kosong.

Dari balai desa perjalanan kami lanjutkan. Dengan menggunakan becak kami mengunjungi lokasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).  Kami disambut anak-anak balita dengan dengan lagu-lagu yang ceria. Anak-anak seusia mereka sangat diperlukan asupan gizi yang baik dan seimbang untuk perkembangan otak. Ditempat ini kami juga memberikan sumbangan mainan edukatif yang bisa melatih cara berfikir dan perkembangan motoris anak-anak usia balita dan batita. Jadi bukan sumbangan berupa mainan mobil-mobilan atau boneka yang kurang mendidik.

Perjalanan dilanjutkan dengan acara penanaman secara simbolis pohon di hutan mangrove di pesisir Pantai Pulau Harapan.  Dalam perjalanan menuju pantai kami mampir di rumah sehat milik Pak Muntaha yang disekitarnya banyak sekali pepohonan terutama sayur dan buah-buahan. Pak Muntaha tidak perlu membeli jika membutuhkan sayuran, tinggal memetik saja. Pak Ahmad Sang Profesor Gizi mengatakan di lahan yang tidak begitu luas ini banyak sekali sayur dan buah-buahan yang bermanfaat dan bergizi tinggi. Salah satunya adalah pohon sukun yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Hal ini patut dijadikan contoh oleh warga lainnya.

Dalam kesempatan tersebut Sang Profesor yang lucu itu sempat memberikan puisinya yang berkisah tentang curhatan hati seorang pedagang buah-buahan kepada pacarnya. Berikut isi lengkap puisi tersebut :

Wajahmu memang MANGGIS, Watakmu MELONkolis, Tapi hatiku NANAS karna cemburu, SIRSAK nafasku, ANGGUR lebur hatiku, Ini adalah DELIMA dalam hidupku, Memang SALAK ku yang tak pernah APEL d’malam minggu

Yaa tuhan aku mohon BELIMBINGmu, Jikalau memang perPISANGan ini baik untuk ku, SEMANGKA dia berbahagia dengan orang lain yang lebih baik dariku…

Kontan semua peserta tertawa mendengar puisi sang profesor yang dipelesetkan dari nama-nama buah-buahan. Saking lucunya beberapa teman menyarankan sang prof untuk ikut acara stand up comedy.

Perjalanan kembali dilanjutkan dan tanpa terasa sudah tiba di tepi pantai tempat hutan mangrove berada. Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di pesisir tropis. Hutan ini sering disebut hutan bakau, karena di berbagai tempat banyak ditumbuhi hutan bakau. Sebenarnya nama hutan bakau ini kurang tepat karena selain bakau ada jenis tumbuhan lain di hutan mangrove.

Pohon penyusun hutan mangrove berjumlah sekitar 70 jenis, 41 jenis diantaranya ada di Indonesia. Jenis hutan mangrove ini adalah hutan bakau (Rhizopora sp), Api-api (Avicienna sp), Pidada (Sonneratia sp) dan Tanjang (Bruguiera sp).

Sebagian besar pulau di wilayah Kepulauan Seribu  memiliki tumbuhan penyusun hutan mangrove, tapi hanya beberapa pulau saja yang memiliki hutan mangrove diantaranya Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, Pulau Penjaliran, Pulau Pari dan beberapa pulau lainnya.

Manfaat ekologi dari hutan mangrove ini adalah sebagai produsen nutrien bagi ekonomi pesisir, sebagai pengikat dan penyaring sedimen yang meluruh dari daratan sehingga dapat mencegah terjadinya abrasi, sebagai pelindung daratan dari efek badai dan angin ribut yang merusak, sebagai tempat hewan-hewan mencari makan, berlindung, memijah dan memelihara anaknya dan sebagai sumber keanekaragaman genetik.

Sedangkan manfaat ekonomi dari hutan mangrova adalah sebagai lokasi sumber makanan bagi manusia, lokasi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir dan sumber obat-obatan potensial.

Jadi jika dilihat dari kedua manfaat diatas fungsi dari hutan mangrove sangat penting baik untuk kehidupan manusia dan ekosistem pesisir. Itulah sebabnya perlu digalakkan dan disosialisasikan manfaat dari hutan mangrove tersebut diantaranya dengan penanaman mangrove yang kami lakukan.

Setelah selesai menanam pohon di hutan mangrove kami kembali ke kantor Kelurahan Pulau Harapan untuk istirahat dan sholat jumat di Masjid Jami Al Hidayah. Dan setelah itu kembali menyaksikan MasterChef Opik beraksi melakukan demo masak didepan ibu-ibu PKK di halaman kantor kelurahan. Kali ini sang MasterChef akan memasak Singkong Ketan Saus Santan yang dipadukan dengan buah mangga dan rumput laut. Cef Opik sengaja menggunakan bahan-bahan yang bisa ditemukan di pulau ini agar ibu-ibu bisa mencoba resep tersebut. Rumput laut digunakan untuk mengurangi kolesterol sedangkan penggunaan ketan sebagai pengganti karbohidrat yang baik untuk tubuh. Demikian analisa Prof Ahmad sang ahli gizi saat ditanya komentarnya mengenai kuliner ini.

Antusias sekali animo masyarakat terutama ibu-ibu menyaksikan acara tersebut. Bahkan diantaranya ada yang berebut foto bersama. Eh tapi bukan di foto dengan masakannya, tapi sama sang MasterChef J. Setelah seru-seruan masak dan bermain games dengan ibu-ibu, dengan berat hati kami harus meninggalkan Pulau Harapan menuju destinasi  baru : Pulau Pramuka. Semoga setelah menginjakkan kaki di Pulau Harapan, semua harapan kita semua dapat terwujud. Aamiin  *apa hubungannya? hehehe*

JelajahGizi21

Kegiatan CSR di Pulau Harapan

Nutrition Hunt

Dalam waktu 30 menit kita sudah sampai di Pulau Pramuka yang merupakan ibukota dari Kabupaten Kepulauan Seribu. Karena waktu sudah siang kami langsung menyantap hidangan makan siang yang sudah siap untuk dilahap para peserta yang sudah terlihat lapar. Daaaan dalam sekejap makanan sudah habis tak bersisa. Selanjutnya adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh peserta yaitu Nutririon Hunt, sebuah permainan mirip-mirip Amazing Race yang dikombinasikan dengan MasterChef.

Kami dibagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. Tiap kelompok ditugaskan untuk memasak “Sate Gepuk” makanan khas di daerah ini. Adapun untuk bahan-bahannya masing-masing kelompok dibekali uang Rp 150.000,- Kita diberitahukan bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk memasak menu tersebut. Saya masuk dalam kelompok B bersama Mas Sihar dan 3 jurnalis.

Kami diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan masakan tersebut. Dan sesaat setelah dimulai kami langsung berbagi tugas. Saya dan Mas Sihar mencari ikan yang menjadi bahan baku utama menu ini, sedangkan yang lain mencari bumbunya. Setelah berkeliling kampung akhirnya kami menemukan ikan yang kami cari : Ikan Tongkol. Teman-teman jurnalis pun berhasil mengumpulkan bumbu-bumbunya termasuk buah pala yang paling susah dicari. Setelah terkumpul semua kami langsung mulai meracik, ada yang menyayat ikan, mengulek bumbu, sampai memanggang ikan. Ada sedikit perselisihan saat menghias masakan diatas piring. Memang selera setiap orang berbeda ya, ada yang ingin seperti ini, ada yang ingin seperti itu. Tapi akhirnya jadi juga. Saat-saat tegang adalah ketika MasterChef Opik mencicipi masakan kita. Dia mulai membuka, memotong dan memakannya. Tidak ada komentar tapi ekspresinya terlihat puas. Setelah itu kami pun ikut mencicipi. Karena belum pernah merasakan sate gepuk sebelumnya, saat mencicipi kami tidak tahu apakah masakah ini enak atau tidak. Tapi sudahlah yang penting kita sudah berusaha sekuat tenaga menyajikan masakan ini.

JelajahGizi26

Grup B dengan masakan “Sate Gepuk” buatannya (Foto : @Nutrisi_Bangsa)

Setelah selesai kita buru-buru kembali ke Pulau Putri untuk mengejar waktu karena rencananya akan menyaksikan sunset. Setelah tiba di Pulau Putri, kami semua naik kapal “Princess Island 1” yang akan berkeliling sekitar pulau untuk melihat keindahan suasana sunset. Wow amazing sekali, jika selama ini saya melihat sunset dari tepi pantai, kini mendapat pengalaman baru melihat sunset dari atas kapal.

Kami semua duduk di dek atas tepatnya dimoncongnya kapal (kebayang nggak sih itu nakhodanya bisa ngeliat kedepan apa nggak, soalnya pasti terhalang oleh kita-kita). Suasana saat itu memang seru dan mengasyikan ya. Suasana terang lambat laun menjadi gelap. Matahari mulai ditelan cakrawala, walau sedikit dibayang-bayangi awan. Dan ketika melihat ke belakang, ada satu pemandangan yang sangat menakjubkan, awan yang berwarna pink!

JelajahGizi23

Menikmati sunset dari atas kapal “Princess Island 1” (Foto : Nutrisi Bangsa)

Awarding Night     

Selepas menyaksikan sunset dan kembali ke Pulau Putri masih ada satu acara lagi yaitu Awarding Night, acara seru-seruan yang akan mengumumkan pemenang lomba Nutrition Hunt tadi siang. Acara yang diadakan di tepi pantai ini diawali dengan games dan yel-yel  untuk menambah point setiap grup. Kalau untuk yel-yel grup kami nyerah deh dan pemenangnya dari grup A yang memang keren. 50 point untuk mereka. Selanjutnya menebak cuplikan lagu yang dimenangkan oleh grup B yang berhasil menebak 4 lagu dengan benar. Selanjutnya tebak kata, grup B juga berhasil menebak 2 kata “Doraemon” dan “Gundala Putra Petir” dengan benar. Dan akhirnya setelah digabung dengan nilai hasil Nutrition Hunt, grup B menjadi pemenangnya dan berhak mendapat hadiah Rp 2 juta. Pemenang kedua grup D mendapat Rp 1,5 Juta dan pemenang ke-3 dan ke-4 grup C dan A yang  mendapat hadiah masing-masing Rp 500 ribu. Acara diakhiri dengan menyanyi dan joget bersama seluruh peserta.

 

JelajahGizi22

Dua hari ini kami sudah seperti anak-anak pesisir pantai. Mengarungi lautan. Diterjang ombak. Disengat matahari. Membuat masakan khas. Ya kami sudah seperti anak seribu pulau.

(bersambung)

Jelajah Gizi Hari Pertama : Kepulauan Seribu Kami Datang!

10 petualang Jelajah Gizi sudah terpilih dan siap menuju Kepulauan Seribu untuk mengekplorasi pesona kuliner plus nilai gizinya, selain tentu saja menikmati keindahan pemandangan alamnya. Kami datang dari berbagai daerah. Paling jauh adalah @andyputera dari Bali, kemudian ada @Multimehdia dari Surabaya, @nengbiker dari Malang, @iqbal_kautsar dari Jogja, @adhistwd dari Bandung, @TraveLafazr dari Depok, @nesatasyaa dan @sihar_deanova dari Jakarta dan saya sendiri dari Bogor.

Tepat pukul 08.00 kami semua sudah berkumpul di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol. Dalam rombongan akan ikut serta juga para jurnalis dari berbagai media, baik dari media cetak maupun media online. Dalam sambutan selamat datang dari SARI HUSADA sebagai penyelenggara Bapak Arif (@colekarif) mengatakan bahwa perjalanan ini bukan sekedar wisata kuliner yang mengandalkan rasa, tapi juga ingin menggali kandungan gizinya. Itulah mengapa dalam rombongan ini juga didatangkan Profesor Ahmad Sulaeman, seorang ahli gizi dari IPB Bogor yang akan menerangkan nilai kandungan gizi setiap makanan yang diolah. Selain ahli gizi, juga ikut dalam rombongan ahli masak yaitu Chef Opik yang akan mengolah makanan khas lokal agar memiliki cita rasa dan kandungan gizi yang tinggi. Chef Opik ini adalah pemenang kedua lomba MasterChef Indonesia Season 2 jadi bolehlah kita sebut MasterChef.

JelajahGizi1

Inilah ke-10 Petualang Jelajah Gizi yang siap mengarungi Kepulauan Seribu

Dan akhirnya tepat pukul 09.30 rombongan mulai meninggalkan Pantai Marina. Kami menggunakan speedboat “Pulau Bidadari” yang menggunakan 4 mesin dengan kekuatan 200 HP yang dapat memuat 60 penumpang. Tujuan pertama adalah Pulau Pari yang dapat ditempuh dalam waktu 1 jam. Cuaca sangat bersahabat. Ombak tidak terlalu besar. Hanya riak-riak kecil yang menggoyang-goyangkan penumpang seakan mengucapkan selamat datang di Kepulauan Seribu. Tiba-tiba alarm kapal berbunyi dan kapal berhenti. Para penumpang tentu saja kaget apa yang terjadi. Ternyata ada sampah yang menyangkut di baling-baling mesin. Setelah dibersihkan perjalanan kembali dilanjutkan.

Dan benar saja, dalam 1 jam sudah nampak di depan mata Pulau Pari. Seperti namanya, bentuk pulau ini memang seperti ikan Pari. Memanjang di bagian ekor, lalu membesar di bagian tengah dan kembali mengecil di bagian kepala. Tiba di Dermaga Pulau Pari kami disambut oleh Bapak Lurah Pulau Pari yaitu Pak Astaman dan isterinya. Kami dipersilahkan untuk menjelajahi daerah ini dan mereka siap membantu jika ada yang ingin ditanyakan. Setelah itu kami diberi pinjaman sepeda dan rame-rame menuju tempat budidaya rumput laut yang merupakan mata pencaharian utama penduduk di pulau ini. Seru juga bersepeda di pulau yang tidak ada mobilnya, bebas polusi. Jalanan mulus terbuat dari paving blok. Rumah penduduk berjejer rapi sepanjang perjalanan. Banyak pohon juga sebagai peneduh dan menambah keasrian pulau ini. Dan saat akan mencapai tujuan pemandangan di sebelah kanan dan kiri adalah lautan! Wah keren sekali.

Budidaya Rumput Laut di Pulau Pari

Kami tiba di gedung Lembaga Ilmu Pengetahunan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Oseanografi Pulau Pari. Disini kami diberi penjelasan oleh Pak Nurhayat, Ketua RW di Pulau Pari tentang bagaimana cara membudidayakan rumput laut. Diterangkan untuk “menanam” rumput laut hanya memotong ujung tunas rumput laut kurang lebih seukuran jari lalu diikat ke sebuah tali dengan ikatan seperti tali sepatu. Ikat rumput laut sepanjang tali dengan jarak kira-kira setiap 20-30 cm. Jika sudah selesai tinggal di tanam di pesisir pantai. Dari 50 gram bibit, setelah ditanam dilaut selama 45 hari akan bertambah hingga menjadi 2 kg. Setiap panen rata-rata menghasilkan 1 ton. Rumput laut basah ini akan dijadikan bibit lagi untuk ditanam kembali di laut. Sedangkan untuk rumput laut yang akan diolah harus direndah terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa asin.

Prof Ahmad menjelaskan, rumput laut sangat baik untuk kesehatan antara lain sangat baik untuk pencernaan, kaya zat gizi namun rendah kalori dan enak dimakan bersama makanan sehat lain seperti sushi, sup dan salad. Di Indonesia rumput laut sering diolah menjadi salah satu bahan untuk minuman es campur, dodol, agar-agar, asinan, lalap hingga keripik. Di Indonesia ada sekitar 555 jenis rumput laut, namun baru 3 jenis yang dibudidayakan yaitu jenis eucheuma cottanii, gracilaria dan ecuheuma spinosum. Indonesia sudah sanggup memenuhi 50% kebutuhan rumput laut jenis eucheuma cottonii di seluruh dunia. Wow keren yah.

Setelah selesai mendapat penjelasan tentang budidaya rumput laut, kami juga langsung diajarkan untuk menanam rumput laut  secara langsung di tengah laut. Dengan menggunakan perahu, kami pergi menuju tempat penananan tersebut. Tali yang sudah digantungi potongan-potongan rumput laut tinggal dibentangkan dan kedua ujungnya diikat ke tali yang sudah ada dilaut. Jadi saling mengikat dan jangan sampai terlepas. Sesederhana itu. Mereka akan tumbuh dan memanjang dan 45 hari kemudian tinggal dipanen. Hama dari rumput laut ini adalah sampah. Hampir setiap hari para petani ini memeriksa apakah ada sampah yang mengganggu pertumbuhan rumput laut tersebut.

JelajahGizi2

Budidaya rumput laut, ujung tunas diikat ke tali kemudian ditanam di laut.

Acara dilanjutkan dengan sesi memasak bersama MasterChef Opik yang akan memasak “Salad Rumput Laut“. Dan yang membuat eksotik adalah dia akan memasak di tepi Pantai Perawan yang cantik dan indah. Chef  juga akan memasak di depan ibu-ibu PKK yang berada di Pulau Pari ini. Menurut Chef makanan yang baik itu jangan hanya rasanya saja yang enak, tapi juga harus sehat dan diolah dengan baik. Pernyataan ini diamini oleh Prof Ahmad. Salad rumput laut dipadukan dengan ikan baronang yang di fillet, kemudian digarnis dengan nanas dan kacang. Dan rasanya hmmm yummy! Resep ini langsung dicoba oleh ibu-ibu PKK yang hadir dengan dibimbing oleh chef, tidak ketinggalan blogger juga ada yang ikut masak lho dan rasanya tidak jauh dengan hasil olahan sang MasterChef.

JelajahGizi3

MasterChef Opik sedang melakukan demo masak dengan menu “Salad Rumput Laut”

Setelah selesai acara demo memasak acara dilanjutkan dengan makan siang dengan menu khas daerah pantai. Apalagi kalau bukan seafood. Ada satu menu yang istimewa yaitu cumi hitam. Menurut Prof Ahmad cumi hitam ini makanan yang dapat mencegah kanker. Setelah mendapat penjelasan ini rame-rame semua blogger nambah porsi cumi hitam. Padahal alasan saja tuh masih laper :p

Pulau Lancang Penghasil Ikan Teri dan Rajungan

Perjalanan kembali dilanjutkan ke Pulau Lancang. Kali ini kita akan melihat potensi ikan teri dan rajungan yang menjadi komoditas utama di pulau ini. Kami menuju tempat pengolahan ikan teri. Setelah diangkut oleh nelayan dari laut, teri kemudian di rebus dan untuk mengawetkan ditambahkan garam. Jadi tidak menggunakan bahan pengawet ya. Setelah direbus kemudian dijemur selama kurang lebih 4 jam. Setelah kering kemudian dipilah antara teri nasi dan teri belah. Menurut Pak Lurah teri nasi ini banyak dikirim ke Jakarta dan dikenal sebagai teri Medan. Jadi asalnya dari Pulau Lancang tapi Medan yang punya nama, kelakar Pak Lurah. Harga jual teri nasi ini Rp75.000,- / kg, namun jika sudah sampai di Jakarta harganya bisa berlipat menjadi Rp 200.000,- Dan untuk para peserta yang akan membeli Pak Lurah memberi harga khusus hanya Rp 50.000,- per kilo dan para peserta pun rame-rame memesan teri nasi ini. Prof Ahmad menambahkan bahwa kandungan gizi dari teri ini mengandung 17% protein. Jika dikeringkan akan bertambah lagi proteinnya.

JelajahGizi4

Proses pembuatan teri nasi : direbus, dijemur, dikumpulkan dan disortir

Setelah selesai mengunjungi tempat pengolahan teri, perjalanan dilanjutkan untuk melihat pengolahan rajungan. Rajungan adalah hewan sejenis kepiting. Perbedaanya adalah rajungan hanya hidup di satu alam (dalam air) sedangkan kepiting bisa hidup di dua alam. Selain itu rajungan akan mati tidak lama setelah dikeluarkan dari air, sedangkan kepiting tidak. Bentuk kaki rajungan yang paling belakang berbentuk pipih, sedangkan kepiting berbentuk runcing. Bagaimana dengan rasanya?

JelajahGizi5

Rajungan : sebelum dan sesudah dimasak

Nah setelah mengunjungi kedua tempat pengolahan diatas kita akan merasakan makanan tersebut jika sudah dimasak. Ya kita akan melakukan test food teri nasi yang sudah diolah dengan kacang, serta rajungan yang sudah dimasak dengan bumbu saus padang. Jujur saya suka sekali dengan makanan teri kacang, setiap akhir pekan harus ada menu wajib ini ditambah dengan sayur asam dan sambal pedas. Dan setelah mencicipi teri kacang yang disajikan rasanya luarrrr biasa. Enak sekali apalagi jika ditambah nasi, namun berhubung test food jadi tidak disediakan nasi.

Sedangkan rajungan yang penampakannya hampir mirip dengan kepiting, rasanya tidak jauh dengan kepiting saus padang. Malah untuk membongkar jeroan dari rajungan lebih mudah dibanding kepiting. Tinggal tarik pake tangan dan dengan mudah akan terlepas. Sedangkan kalau kepiting harus menggunakan penjepit dan kadang membuat luka sehingga saat cuci tangan akan terasa perih (pengalaman pribadi). Hal ini tidak saya rasakan saat mengeksekusi rajungan.

JelajahGizi6

Sesi yang ditunggu-tunggu : Test Food!

FGD di Pulau Putri

Setelah selesai kegiatan di Pulau Lancang, perjalanan kembali dilanjutkan ke Pulau Putri. Tempat ini akan menjadi homebase selama perjalanan di Kepulauan Seribu. Pulau Putri ini merupakan sebuah pulau wisata yang paling baik dan lengkap di Kepulauan Seribu. Ada resort standar internasional, kolam renang, mini sea world, diving dan snorkeling spot, dan masih banyak fasilitas lainnya. Dasar teman-teman blogger ini memang bawaannya ingin mencoba sesuatu yang baru ya, bukannya beristirahat, ini malah langsung pada nyebur saat melihat kolam renang nganggur. Dan jadilah kita semua berenang sampai menjelang makan malam. Dan setelah bersih-bersih dan dinner acara dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) tentang apa yang sudah dilakukan hari ini.

Diawali dengan pengenalan setiap blogger, jurnalis dan panitia penyelenggara jelajah gizi yang kedua ini. Dibahas juga beberapa tulisan dari blogger yang memenangkan lomba jelajah gizi. Apa dan mengapa menulis atau membahas makanan tersebut. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Dan kita harus kembali ke resort masing-masing untuk beristirahat karena perjalanan untuk besok masih menanti. Perjalanan hari ini seperti sebuah pepatah, “Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui”  Sekali jalan, dua-tiga pulau sudah disinggahi! Ya hari ini kita sudah singgah di Pulau Pari, Pulau Lancang dan Pulau Putri. (bersambung)

 

Silahkan komentar disini

 

Foto : Koleksi Pribadi

Papeda, Kuliner Penuh Gizi Khas dari Timur Indonesia

Mungkin masih ingat saat  di bangku Sekolah Dasar, kita diajarkan tentang makanan pokok di Indonesia. Mayoritas penduduk menyantap nasi namun ada beberapa daerah yang tidak mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Seperti misalnya  penduduk di kawasan timur Indonesia seperti Maluku dan Papua mereka mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokoknya.

Seiring dengan perkembangan waktu, lambat laun penduduk di Maluku dan Papua mulai beralih mengkonsumsi nasi, terutama di wilayah perkotaan. Namun penduduk setempat masih banyak juga yang mengkonsumsi sagu, terutama di daerah pedalaman atau jika ada pesta perkawinan.

Saya sendiri sempat merasakan nikmatnya makanan olahan yang terbuat dari bahan pokok sagu yaitu Papeda atau bubur sagu saat mengunjungi Kota Ternate di Maluku Utara. Saat mengunjungi Pulau yang terkenal dengan besi putihnya itu saya diajak seorang rekan untuk menyantap makanan khas di sebuah rumah makan yang menyediakan menu tersebut.

Makanan ini terbuat dari tepung sagu. Batang sagu yang sudah cukup usia (sekitar 3-5 tahun) kemudian di potong dan bonggolnya diperas hingga sari patinya keluar dan menghasilkan tepung sagu murni yang siap diolah. Tepung ini kemudian di simpan di sebuah tumang. Hasil olahan sagu ini menghasilkan Papeda yang bentuknya menyerupai lem.

Papeda ini ibarat nasi. Jadi perlu lauk pauk saat menyantapnya. Tidak terbayang kan kalau makan nasi tanpa lauk pauk 😀 Begitu juga Papeda. Biasanya disajikan dengan sup ikan kuah kuning. Biasanya ikan yang dimasak adalah ikan tude, ikan tongkol atau ikan mubara. Tergantung ikan mana yang ingin kita santap. Sebagai bumbu penyedap cukup ditambah bumbu kunyit dan jeruk nipis. Nah makanan inilah yang bergizi tinggi.

Ikan sudah dikenal sebagai makanan yang bergizi tinggi. Terutama ikan laut. Lihatlah orang-orang Jepang yang sangat suka menyantap ikan, mereka pintar-pintar kan? Sebuah survey memperlihatkan bahwa penduduk yang tinggal di daerah pantai atau pesisir tingkat kecerdasannya lebih tinggi dibanding daerah lainnya. Sudah terbukti kan? Mengapa demikian, karena mereka yang tinggal di daerah pantai lebih banyak mengkonsumsi ikan dibanding daerah lainnya.

Jujur, inilah pertama kalinya saya menyantap Papeda dan lauk pauknya. Cara makannya pun memiliki khas tersendiri. Setelah mengambil papeda secukupnya ke dalam piring dan mengambil ikan sup kuah kuning kita tinggal melahapnya. Cukup menautkan telunjuk dan jempol untuk mengambil Papeda dan langsung menyeruputnya. Praktis tidak perlu dikunyah karena sudah lembek seperti bubur. Ditambah dengan lauk pauk lainnya semakin menambah kenikmatan makanan khas ini.

Lauk pauk lainnya yang semakin menambah nikmatnya makan papeda adalah sayur ganemo yang diolah dari daun melinjo muda yang ditumis dengan bunga pepaya muda dan cabai merah. Konon jika menyantap makanan ini kita akan terhindar dari penyakit malaria. Bisa jadi mungkin karena rasa pahit dari bunga pepaya – seperti pil kina – bisa menambah kekebalan tubuh jika penyakit malaria menyerang.

Tanpa terasa, papeda dan lauk pauknya sudah “tandas” (habis dalam bahasa setempat) kami lahap. Semuanya sudah bersih baik di piring maupun diatas meja. Hanya menyisakan tulang belulang ikan yang sudah dinanti kucing-kucing yang siap melahapnya. Bagi teman-teman yang belum pernah mencoba, rasanya menu kuliner penuh gizi ini wajib dicicipi.

Papeda

Papeda dan Lauk Pauk lainnya (Sumber Foto : www.Banyumurti.Net)