Tag: #JejakSiBlogger

Senja di Pantai Lampuuk

Setelah puas berkeliling di Kota Banda Aceh, saya ingin menikmati sunset yang katanya sangat indah di Pantai Lampuuk. Jam 5 sore saya mulai menuju pantai tersebut yang lokasinya cukup jauh dari Banda, sekitar 15 km. Menggunakan motor sewaan tanpa ada penuntun jalan tentu menjadi persoalan tersendiri menuju tempat yang sama sekali belum diketahui. Saya hanya menggunakan petunjuk jalan dan bertanya kepada warga setempat.

Matahari terlihat hampir menyentuh cakrawala, namun sama sekali belum terlihat tanda-tanda sebuah pantai. Jalanan mulai sepi, karena orang-orang sudah kembali ke rumah masing-masing mempersiapkan ibadah sholat maghrib. Dan tepat ketika gema adzan berkumandan, saya melihat tanda-tanda sebuah pantai.

Pantai Lampuuk berada di Desa Meunasah Masjid, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berada di jalur Banda Aceh – Calang (Aceh Jaya). Sebuah pantai yang indah. Dengan hamparan pasir putih yang menawan, tentu menjadi salah satu tempat wisata yang menarik di wilayah ini. Satu keunikan dari pantai ini, dibagian kanan terdapat tebing-tebing batu yang cukup tinggi dan yang lebih unik lagi di bagian bibir tebing terdapat cottage-cottage yang siap disewakan. Luar biasa! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan saat kita menginap di cottage tersebut. Terbayang pemandangan yang indah yang sangat luas melihat lautan luas.

Saat tsunami, kawasan ini luluh lantak diterjang ombak. Tak satupun bangunan yang tersisa kecuali sebuah masjid yang hingga kini masih berdiri dengan megah. Lalu kawasan ini dibangun kembali dengan bantuan dari pemerintah Turki, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Kampong Turki.

Sayang, saya datang terlambat ke tempat ini, sunset yang kami kejar sudah menembus cakrawala. Namun ada satu keindahan yang tersisa, bahkan menurut saya jauh lebih indah dari sunset : senja yang menyisakan lembayung yang berwarna jingga, berpadu dengan laut dan langit biru. Subhanallah indahnya.

Tulisan ini juga di muat di situs www.jelajahbumipapua.com

Mengunjungi Museum Tsunami Aceh

Museum ini bukan hanya mengenang tragedi tsunami 24 Desember 2004 lalu, tapi berfungsi juga sebagai pendidikan bagi generasi muda tentang antisipasi bencana dan tempat evakuasi yang memadai jika terjadi peristiwa serupa.

 

Museum yang terletak di jantung Kota Banda Aceh tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda ini diresmikan pada tahun 23 Februari 2008 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Berfungsi sebagai objek sejarah dan pusat penelitian tentang tsunami, simbol kekuatan masyarakat Aceh menghadapi bencana tsunami dan sebagai warisan kepada generasi mendatang bahwa disini pernah terjadi bencana tsunami.

 

Desain museum mengusung konsep Rumoh Aceh as Escape Hill hasil rancangan arsitek M. Ridwan Kamil yang memenangkan lomba desain museum ini pada tahun 2006. Desain sarat dengan konten lokal namun rancangannya sangat modern dan futuristik. Digambarkan sebuah rumah panggung tradisional Aceh dan berfungsi juga sebagai escape hill atau bukit evakuasi jika terjadi bencana banjir atau tsunami di masa datang.

 

Sebelum  memasuki pintu masuk akan ditemukan sebuah helikopter Polisi yang hancur diterjang tsunami. Lalu mulai memasuki Lorong Tsunami (Tsunami Alley) yang sempit, menjulang dan temaram. Disisi kiri dan kanan mengalir air dan suara gemuruh air seakan mengingatkan peristiwa tsunami. Disini bulu kuduk kami berdiri.

 

Kemudian kami memasuki ruangan yang terdiri dari bangunan monumen yang diatasnya terdapat sebuah LCD yang memperlihatkan foto-foto saat peristiwa tsunami, seperti bangunan yang hancur, kapal di atas rumah, mayat-mayat bergelimpangan. Sungguh kami terenyuh melihatnya.

 

Ruang berikutnya adalah Ruang Sumur Doa (Chamber of Blessing). Di ruangan yang berbentuk lingkaran seperti cerobong ini terdapat ribuan nama-nama korban tsunami. Menjulang ke atas dan diujung atas ada sebuah cahaya dan tulisan arab berlafaz ALLAH. Pesan dari ruangan ini adalah setiap jiwa manusia pasti akan kembali kepada yang maha kuasa. Dengan sayup-sayup suara orang mengaji, suasana menjadi semakin dalam. Tanpa terasa air mata hangat membasahi pipi.

Setelah itu kami naik ke lantai 2 dengan melewati jembatan yang dirancang sangat futuristik. Seakan tidak percaya bahwa bangunan ini didesain oleh putra bangsa.

 

Di ruang pamer temporer disajikan foto-foto berukuran besar pra, saat dan pasca tsunami. Mungkin kita masih ingat dengan seorang ibu yang menangis saat memeluk anaknya sudah tidak bernyawa lagi atau seorang bapak yang berlari menyelamatkan diri hanya mengenakan handuk putih. Semua itu ada disini dan membuat kami menangis.

 

Lalu kami memasuki ruangan audio visual. Di ruangan yang seperti mini theathe dengan kapasitas 30 orang ini kami disuguhi film saat terjadi tsunami 26 Desember 2004 itu. Film tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya bencana tersebut dan betapa lemahnya manusia menghadapi cobaan yang maha kuasa. Terlihat saat gelombang tsunami memasuki kota Banda Aceh dan berhasil direkam oleh beberapa warga dengan video amatir. Meratakan dan menyeret semua yang dilewatinya. Rumah. Pohon. Kendaraan.

 

Namun jika takdir belum menjemput, terlihat seorang kakek renta yang sedang menyelamatkan diri padahal dibelakangnya datang gelombang tsunami, dalam hitungan detik dia naik ke tempat yang lebih tinggi dan berhasil menyelamatkan diri. Dan, saat film selesai, terlihat hampir semua orang mengusap matanya.

 

Selanjutnya kami naik ke lantai 3. Disini disajikan beberapa ruangan untuk memorabilia setelah tsunami seperti sebuah jam besar yang menunjukkan waktu saat terjadinya tsunami, sepeda motor dan sepeda yang hancur. Semua itu sumbangan dari warga yang rela barangnya ditempatkan di museum ini. Selain itu ada juga diorama saat tsunami melanda beberapa daerah. Seperti diorama sebuah mesjid yang berdiri kokoh diterjang tsunami sementara bangunan lain semuanya rata dengan tanah.

 

Ruangan lain memberikan informasi pengetahuan tentang tsunami dan bencana lainnya. Juga ada ruang simulasi gempa. Disini kita bisa merasakan saat terjadi gempa yang sesungguhnya. Ada juga ruangan perpustakaan yang berisi buku-buku tentang bencana sumbangan dari berbagai pihak. Dan terakhirnya ada ruangan khusus cindera mata.

 

Setelah itu kita kembali turun ke lantai 1 dan bisa beristirahat di dalam cafe yang nyaman. Tanpa terasa 2 jam waktu dihabiskan di tempat ini. Namun banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari museum ini. Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, namun kita bisa mengantisipasinya untuk meminimalisir jumlah korban. Satu yang tidak bisa dilawan yaitu takdir dari yang maha kuasa.

Menyelami Dasar Laut Iboih (Pulau Weh)

Kawasan Wisata Iboih dikenal sebagai salah satu spot diving terbaik di Indonesia. Dan tempat itu sudah ada di depan mata! Sebelum diving kami mencari penginapan yang direkomedasikan teman di kawasan ini : Iboih Inn. Walau harus berjalan sekitar 200 meter dari tempat parkir menuju lokasi. Jalanan agak menanjak tetapi setelah tiba di tujuan tempatnya sangat luar biasa. Iboih Inn tepat berada di tepi pantai dan menghadap langsung ke Pulau Rubiah. Apalagi di balkon sudah terpasang hammock yang siap digunakan untuk bermalas-malasan. Dengan tarif Rp250.000,- per malam akhirnya kami putuskan untuk menginap tempat ini. Selain tempat yang nyaman di sini juga ada jaringan wi-fi sehingga memudahkan untuk online.
Hari itu juga kami menyelam dengan bantuan dari Rubiah Tirta Diving yang berada tidak jauh dari penginapan. Setelah diberikan sedikit training tentang diving, akhirnya tepat jam 3 sore kami mulai melakukan penyelaman yang lokasinya berada di depan Pulau Rubiah. Disini airnya jernih sekali. Saat masuk ke dalam air pun dasar laut sudah terlihat dengan jelas. Lalu kami menelusuri dasar laut yang lebih dalam lagi hingga menemukan spesies ikan yang tidak pernah kami lihat. Kami menemukan ikan Dori seperti di film Finding Nemo, lalu ada ikan yang badannya seperti dipenuhi bulu ayam, ada ikan yang bentuk tubuhnya seperti karang dan masih banyak ikan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Tanpa terasa waktu 3 jam sudah kami habiskan didalam air. Tabung oksigen semakin menipis dan kami harus segera naik dan kembali ke daratan. Sore menjelang senja kami diajak berkeliling sekitar pulau. Menyaksikan senja yang tidak kalah indahnya dengan pemandangan dibawah laut yang tadi kami singgahi.
Dan malamnya, kami makan malam di ruang makan yang lokasinya tepat di bibir pantai tepi dermaga. Diiringi deburan ombak dan beratapkan langit yang dihiasi bintang-bintang. Amazing!
Tulisan ini juga di posting di www.jelajahbumipapua.com

Menapaki Tugu Kilometer Nol Indonesia

Selamat Datang di Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang

Tulisan diatas seakan menyambut kedatangan kami di Pulau Weh yang kita kenal sebagai pulau paling barat dari teritori NKRI. Dan tujuan pertama yang akan kita kunjungi adalah Tugu Kilometer Nol Indonesia.

 

Untuk mencapai tugu ini diperlukan 40 menit dari Pelabuhan Sabang, Pulau Weh dengan jarak 32 km. Melewati jalan yang berliku, naik dan turun perbukitan. Perlu ekstra hati-hati 8 km terakhir karena jalannya sempit hanya selebar 5 meter. Transportasi dapat menggunakan kendaraan umum dengan tarif Rp 50.000,- per orang atau sewa kendaraan Rp 350.000 per hari.

 

Tugu ini berada di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya – Sabang. Saat memasuki pelataran tertulis dengan jelas “Tugu Kilometer Nol Indonesia The Monument of Zero Kilometer Indonesia” Lalu terdapat bangunan putih berbentuk lingkaran yang terdiri dari 2 lantai dengan tinggi 22,5 meter. Di lantai dasar terdapat tugu KM.0 dengan diameter kurang lebih satu meter yang terbuat dari besi. Kami segera mengabadikan momen spesial ini.

 

Lalu kami beranjak ke lantai 2 dan disini terdapat prasasti yang menunjukkan posisi geografis kilometer nol ini.Posisi Lintang : 05 54′ 21.42″ LU, Bujur 95 13′ 00.50″ BT, Tinggi : 43.6 meter (MSL). Pengukuran posisi geografis tugu kilometer nol Indonesia di Sabang ini diukur oleh pakar BPP Teknologi dengan menerapkan teknologi Satelit Global Positioning System (GPS).Tugu ini diresmikan pada tanggal 9 September 1997 oleh Wakil Presiden Try Sutrisno dan Menristek BJ Habibie pada waktu itu.

 

 

Dari lantai 2 kita juga bisa melihat keindahan laut lepas Samudera Hindia di ujung barat Indonesia. Beberapa kali terlihat monyet liar mengintip dari balik pohon seakan mengucapkan selamat datang di tempat ini.

 

Lengkap sudah sebagai anak bangsa bisa menginjakkan kaki di tempat ini. Walau tempatnya cukup sederhana, walau hanya sebuah lingkaran besi dengan diameter 1 meter, tapi tugu ini memiliki maknanya begitu dalam sebagai lambang kedaulatan Republik Indonesia tercinta. Dan dari tempat inilah perjalanan saya mengelilingi bumi nusantara dimulai.

***

Tulisan ini juga di muat di situs www.jelajahbumipapua.com