Mengejar Matahari Terbit di Puncak Darma

Hari ke-3 Eksporasi kawasan Ciletuh diawali dengan mengunjungi Puncak Darma yang terletak di  Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai lokasi ini dari penginapan Villa Ujang di Ujunggenteng memerlukan waktu sekitar 2 jam. Jam 3 dinihari kami check out dan sudah berangkat menuju lokasi. Tepat jam 5 saat azdan shubuh kami sudah tiba di lokasi parkiran kendaraan sebelum menuju puncak.

Ada 3 cara menuju Puncak Darma, pertama jalan kaki, kedua naik kendaraan 4WD dan ketiga naik ojek. Kita abaikan cara pertama karena untuk jalan kaki tidak memungkinkan dan akan memakan waktu lama. Kedua menggunakan kendaraan 4WD juga kami skip karena para pemilik kendaraannya jam 5 pagi tidak ada yang menyanggupi. Dan pilihan terakhir yang kami ambil adalah dengan naik ojek yang sudah dimodifikasi sekian rupa agar dapat naik menuju Puncak Darma.

Kondisi jalan dapat dikatakan buruk, dengan material yang terdiri dari batuan lepas dan kerikil, ditambah semalam hujan jadilah jalan menuju puncak seperti medan untuk offroad motocross. Para pengendara ojek begitu gesit mengendarai motornya, sudah seperti pembalap pro saja. Asal kita tenang dan menyerahkan diri kepada yang kuasa, Insya Allah selamat sampai tujuan. Dengan tarif Rp.60.000,- PP rasanya masih wajar dengan kondisi jalan seperti itu. Ditambah resiko jatuh atau terpeleset.

Namun ojek tidak bisa sampai ke puncak karena jalan yang dihadapi begitu terjal, kecuali nekat dan resiko jatuh. Akhirnya diputuskan kita berhenti sampai jembatan. Kita mendapat bonus karena di sungai tersebut ada curug yang indah, namanya Curug Dogdog.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km, namun kondisinya terjal dan licin. Tidak berapa lama kami sudah sampai di Puncak Darma yang memiliki ketinggian 230 meter di atas permukaan laut. Matahari masih malu-malu muncul dibalik bukit. 

Ternyata sudah ada beberapa pengunjung di Puncak Darma. Sempat kepikiran mereka berangkat jam berapa ya dari bawah. Namun terjawab dengan sendirinya ketika menemukan beberapa tenda yang didirikan di sekitar lokasi. Jadi mereka kemping sejak semalam. Seru juga ya kemping di tempat ini, namun dari cerita-cerita yang beredar tempat ini termasuk agak angker juga karena menurut saksi mata sering dijumpai penampakan mahluk halus.

Setelah bergeser menuju ujung bukit maka terlihat dengan jelas hamparan Teluk Ciletuh yang berbentuk seperti lambang huruf omega (kalau perumpamaan seperti tapal kuda mah sudah banyak yang bahas). Selain itu terlihat juga pemandangan alam lainnya seperti bukit, gunung, sawah, dll. Ditambah dengan cahaya matahari pagi yang menurut kitab fotografi bab 12 adalah cahaya alami terbaik, maka pemandangan yang terlihat menurut orang dulu itu sangat menakdjoebkan.

Kurang lebih satu jam kami puaskan diri untuk menikmati pemandangan ini. Kami sempatkan juga sarapan dengan menu aneka gorengan, mie goreng dan kopi. Dengan berat hati akhirnya kami meninggalkan tempat yang indah ini. Kembali menuruni bukit dan menguji adrenalin. Turun gunung ternyata lebih mengerikan dibandingkan saat naik. Hanya doa dan puja-puji kepada yang maha kuasa yang bisa kami panjatkan selama perjalanan. 

Kurang lebih 200 meter sebelum parkiran tadi, ada satu destinasi lagi yang wajib dikunjungi, yaitu Curug Cimarinjung. Hanya berjalan kaki menyusuri saluran air yang sudah dibeton, akhirnya kami menemukan curug yang begitu indahnya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jika mengutip ucapan Kang Deddy Mizwar, inilah yang bisa disebut sebagai “emperan surga”. Emperannya aja kayak gini, apalagi surga benerannya. Subhanallah.

Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya yaitu Geyser di Cisolok Palabuhanratu. Keunikan dari Gesyer ini adalah di beberapa lokasi sungai mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang. Cukup banyak orang yang mandi di sungai dengan memanfaatkan khasiat dari uap panas ini, antara lain menghilangkan gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya.

Saya sendiri mencoba terapi air panas yang dilakukan di kamar-kamar. Jadi badan kita serasa di steam seperti mobil. Dengan menggunakan selang dengan air panas yang wajar, mereka seakan memijit seluruh tubuh dengan menggunakan air panas tersebut. Termasuk bagian muka dan kepala. Kurang lebih 30 menit terapi dilakukan dan setelah selesai badan jadi enteng setelah melakukan perjalanan selama 3 hari non stop yang menguras tenaga.

Setelah dipijit dengan air panas di Cisolok perjalanan dilanjutkan ke Kawang Hawu untuk menikmati matahari terbenam. Namun sayang ada mega yang menghalangi, kami sempat menikmati keindahan lain yaitu senja dan deburan ombak pantai selatan.

Senja di Karang Hawu menjadi penutup perjalanan kami selama 3 hari mengeksplorasi kawasan Ciletuh Palabuhanratu. Ternyata disekitar kita kawasan Jawa Barat masih banyak tempat wisata yang dapat dinikmati dan eksplorasi. Sebagai penutup berikut ini video dari NET. Jawa Barat yang ikut menemani kami selama perjalanan. Perhatikan menit ke 1.51

Terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat yang sudah mengundang dan mengajak acara Famtrip ini, juga kepada teman-teman travel Blogger (Bang Aswi, Cumi, Timo, Hanif, Daniel, Gina), teman-teman media (Kang Dudi, PR, Gala, dkk) dan teman-teman dari ASITA. Semoga bisa jumpa di lain waktu dan kesempatan.

Be Sociable, Share!

Comments are closed.