Jelajah Gizi Hari Kedua : Menjadi Anak Seribu Pulau

Terbangun oleh suara deburan ombak yang seakan mengajak untuk melaut. Sebuah pagi di Pulau Putri diawali dengan berburu matahari terbit di ufuk timur. Namun ada mega yang menghalangi. Terlihat begitu pekat awan diujung cakrawala.

Setelah menghabiskan sarapan bersama teman-teman, kami bersiap-siap untuk kembali melaut. Jadwal pertama awalnya akan menuju Pulau Pramuka. Namun karena kondisi cuaca di hujan deras dan tidak memungkinkan maka perjalanan berganti haluan ke Pulau Harapan. Dan dalam waktu setengah jam kami sudah tiba di pulau tersebut.

 

Kegiatan CSR di Pulau Harapan

Kami langsung disambut oleh pak lurah dan dipersilahkan masuk ke aula Kantor Kelurahan Pulau Harapan yang lokasinya persis diujung dermaga. Pak Lurah M. Ali mengucapkan selamat datang dan memberikan apresiasi atas kunjungan ini. Kemudian beliau memaparkan potensi yang dimiliki oleh wilayah Kelurahan Pulau Harapan.

Kelurahan ini terdiri dari 30 pulau, yang terdiri dari 2 pulau berpenghuni dan sisanya pulau kosong dan pulau wisata. Luas daratan sebesar 244, 72 Hektar dengan jumlah penduduk 2.314 jiwa. Potensi wisata yang bisa diunggulkan antara lain jumlah pulau yang dijadikan resort sebanyak 13 pulau, 26 homestay dan 3 katering. Jenis wisata yang dikembangkan adalah diving, snorkeling dan wisata mancing. Pulau Harapan sendiri mempunyai keunikan yang banyak memikat para wisatawan yaitu kita bisa melihat sunset dan sunrise di satu tempat. Tidak percaya? Silahkan coba.

Untuk produk unggulan, kelurahan ini memiliki sentra produksi kerupuk udang, pembuatan kapal kayu, pembuatan alat penangkap ikan, budidaya mangrove dan produksi keripik sukun. Sedangkan program prioritas yang akan dijalankan antara lain : diizinkannya kapal ojeg bersandar di Muara Angke – Jakarta, penyediaan air bersih yang masih terbatas, penyediaan gedung terpadu, penataan jalan lingkar luar sebelah selatan dan penambahan tempat tambat kapal motor. Dan memang benar ketika kami mengelilingi Pulau Harapan di bagian selatan jalan lingkar pulau masih ada yang belum selesai dan kondisinya sangat buruk karena banyak sekali sampah yang menumpuk di tempat tersebut sehingga menimbulkan bau yang kurang sedap dan rawan penyakit. Inilah program prioritas yang harus segera diwujudkan.

Ditengah-tengah presentasi pak lurah tiba-tiba hadir ke dalam aula Bapak Ahmad Junaedi, plt Bupati Kepulauan Seribu. Beliau sangat antusias dengan kehadiran kami dan sedikit memaparkan kondisi dan keadaan Kabupaten Kepulauan Seribu secara umum.

Kepulauan Seribu sangat berpotensi sebagai kawasan wisata, konservasi mangrove dan terumbu karang. Selain itu juga berpotensi untuk budidaya laut seperti rumput laut dan ikan. Kondisi demikian disebabkan oleh banyaknya pulau di Kepulauan Seribu yang jumlahnya mencapai 110 pulau yang terdiri dari 11 pulau berpenghuni, 9 pulau wisata dan sisanya pulau pribadi dan pulau kosong.

Dari balai desa perjalanan kami lanjutkan. Dengan menggunakan becak kami mengunjungi lokasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).  Kami disambut anak-anak balita dengan dengan lagu-lagu yang ceria. Anak-anak seusia mereka sangat diperlukan asupan gizi yang baik dan seimbang untuk perkembangan otak. Ditempat ini kami juga memberikan sumbangan mainan edukatif yang bisa melatih cara berfikir dan perkembangan motoris anak-anak usia balita dan batita. Jadi bukan sumbangan berupa mainan mobil-mobilan atau boneka yang kurang mendidik.

Perjalanan dilanjutkan dengan acara penanaman secara simbolis pohon di hutan mangrove di pesisir Pantai Pulau Harapan.  Dalam perjalanan menuju pantai kami mampir di rumah sehat milik Pak Muntaha yang disekitarnya banyak sekali pepohonan terutama sayur dan buah-buahan. Pak Muntaha tidak perlu membeli jika membutuhkan sayuran, tinggal memetik saja. Pak Ahmad Sang Profesor Gizi mengatakan di lahan yang tidak begitu luas ini banyak sekali sayur dan buah-buahan yang bermanfaat dan bergizi tinggi. Salah satunya adalah pohon sukun yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Hal ini patut dijadikan contoh oleh warga lainnya.

Dalam kesempatan tersebut Sang Profesor yang lucu itu sempat memberikan puisinya yang berkisah tentang curhatan hati seorang pedagang buah-buahan kepada pacarnya. Berikut isi lengkap puisi tersebut :

Wajahmu memang MANGGIS, Watakmu MELONkolis, Tapi hatiku NANAS karna cemburu, SIRSAK nafasku, ANGGUR lebur hatiku, Ini adalah DELIMA dalam hidupku, Memang SALAK ku yang tak pernah APEL d’malam minggu

Yaa tuhan aku mohon BELIMBINGmu, Jikalau memang perPISANGan ini baik untuk ku, SEMANGKA dia berbahagia dengan orang lain yang lebih baik dariku…

Kontan semua peserta tertawa mendengar puisi sang profesor yang dipelesetkan dari nama-nama buah-buahan. Saking lucunya beberapa teman menyarankan sang prof untuk ikut acara stand up comedy.

Perjalanan kembali dilanjutkan dan tanpa terasa sudah tiba di tepi pantai tempat hutan mangrove berada. Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di pesisir tropis. Hutan ini sering disebut hutan bakau, karena di berbagai tempat banyak ditumbuhi hutan bakau. Sebenarnya nama hutan bakau ini kurang tepat karena selain bakau ada jenis tumbuhan lain di hutan mangrove.

Pohon penyusun hutan mangrove berjumlah sekitar 70 jenis, 41 jenis diantaranya ada di Indonesia. Jenis hutan mangrove ini adalah hutan bakau (Rhizopora sp), Api-api (Avicienna sp), Pidada (Sonneratia sp) dan Tanjang (Bruguiera sp).

Sebagian besar pulau di wilayah Kepulauan Seribu  memiliki tumbuhan penyusun hutan mangrove, tapi hanya beberapa pulau saja yang memiliki hutan mangrove diantaranya Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, Pulau Penjaliran, Pulau Pari dan beberapa pulau lainnya.

Manfaat ekologi dari hutan mangrove ini adalah sebagai produsen nutrien bagi ekonomi pesisir, sebagai pengikat dan penyaring sedimen yang meluruh dari daratan sehingga dapat mencegah terjadinya abrasi, sebagai pelindung daratan dari efek badai dan angin ribut yang merusak, sebagai tempat hewan-hewan mencari makan, berlindung, memijah dan memelihara anaknya dan sebagai sumber keanekaragaman genetik.

Sedangkan manfaat ekonomi dari hutan mangrova adalah sebagai lokasi sumber makanan bagi manusia, lokasi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir dan sumber obat-obatan potensial.

Jadi jika dilihat dari kedua manfaat diatas fungsi dari hutan mangrove sangat penting baik untuk kehidupan manusia dan ekosistem pesisir. Itulah sebabnya perlu digalakkan dan disosialisasikan manfaat dari hutan mangrove tersebut diantaranya dengan penanaman mangrove yang kami lakukan.

Setelah selesai menanam pohon di hutan mangrove kami kembali ke kantor Kelurahan Pulau Harapan untuk istirahat dan sholat jumat di Masjid Jami Al Hidayah. Dan setelah itu kembali menyaksikan MasterChef Opik beraksi melakukan demo masak didepan ibu-ibu PKK di halaman kantor kelurahan. Kali ini sang MasterChef akan memasak Singkong Ketan Saus Santan yang dipadukan dengan buah mangga dan rumput laut. Cef Opik sengaja menggunakan bahan-bahan yang bisa ditemukan di pulau ini agar ibu-ibu bisa mencoba resep tersebut. Rumput laut digunakan untuk mengurangi kolesterol sedangkan penggunaan ketan sebagai pengganti karbohidrat yang baik untuk tubuh. Demikian analisa Prof Ahmad sang ahli gizi saat ditanya komentarnya mengenai kuliner ini.

Antusias sekali animo masyarakat terutama ibu-ibu menyaksikan acara tersebut. Bahkan diantaranya ada yang berebut foto bersama. Eh tapi bukan di foto dengan masakannya, tapi sama sang MasterChef J. Setelah seru-seruan masak dan bermain games dengan ibu-ibu, dengan berat hati kami harus meninggalkan Pulau Harapan menuju destinasi  baru : Pulau Pramuka. Semoga setelah menginjakkan kaki di Pulau Harapan, semua harapan kita semua dapat terwujud. Aamiin  *apa hubungannya? hehehe*

JelajahGizi21

Kegiatan CSR di Pulau Harapan

Nutrition Hunt

Dalam waktu 30 menit kita sudah sampai di Pulau Pramuka yang merupakan ibukota dari Kabupaten Kepulauan Seribu. Karena waktu sudah siang kami langsung menyantap hidangan makan siang yang sudah siap untuk dilahap para peserta yang sudah terlihat lapar. Daaaan dalam sekejap makanan sudah habis tak bersisa. Selanjutnya adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh peserta yaitu Nutririon Hunt, sebuah permainan mirip-mirip Amazing Race yang dikombinasikan dengan MasterChef.

Kami dibagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. Tiap kelompok ditugaskan untuk memasak “Sate Gepuk” makanan khas di daerah ini. Adapun untuk bahan-bahannya masing-masing kelompok dibekali uang Rp 150.000,- Kita diberitahukan bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk memasak menu tersebut. Saya masuk dalam kelompok B bersama Mas Sihar dan 3 jurnalis.

Kami diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan masakan tersebut. Dan sesaat setelah dimulai kami langsung berbagi tugas. Saya dan Mas Sihar mencari ikan yang menjadi bahan baku utama menu ini, sedangkan yang lain mencari bumbunya. Setelah berkeliling kampung akhirnya kami menemukan ikan yang kami cari : Ikan Tongkol. Teman-teman jurnalis pun berhasil mengumpulkan bumbu-bumbunya termasuk buah pala yang paling susah dicari. Setelah terkumpul semua kami langsung mulai meracik, ada yang menyayat ikan, mengulek bumbu, sampai memanggang ikan. Ada sedikit perselisihan saat menghias masakan diatas piring. Memang selera setiap orang berbeda ya, ada yang ingin seperti ini, ada yang ingin seperti itu. Tapi akhirnya jadi juga. Saat-saat tegang adalah ketika MasterChef Opik mencicipi masakan kita. Dia mulai membuka, memotong dan memakannya. Tidak ada komentar tapi ekspresinya terlihat puas. Setelah itu kami pun ikut mencicipi. Karena belum pernah merasakan sate gepuk sebelumnya, saat mencicipi kami tidak tahu apakah masakah ini enak atau tidak. Tapi sudahlah yang penting kita sudah berusaha sekuat tenaga menyajikan masakan ini.

JelajahGizi26

Grup B dengan masakan “Sate Gepuk” buatannya (Foto : @Nutrisi_Bangsa)

Setelah selesai kita buru-buru kembali ke Pulau Putri untuk mengejar waktu karena rencananya akan menyaksikan sunset. Setelah tiba di Pulau Putri, kami semua naik kapal “Princess Island 1” yang akan berkeliling sekitar pulau untuk melihat keindahan suasana sunset. Wow amazing sekali, jika selama ini saya melihat sunset dari tepi pantai, kini mendapat pengalaman baru melihat sunset dari atas kapal.

Kami semua duduk di dek atas tepatnya dimoncongnya kapal (kebayang nggak sih itu nakhodanya bisa ngeliat kedepan apa nggak, soalnya pasti terhalang oleh kita-kita). Suasana saat itu memang seru dan mengasyikan ya. Suasana terang lambat laun menjadi gelap. Matahari mulai ditelan cakrawala, walau sedikit dibayang-bayangi awan. Dan ketika melihat ke belakang, ada satu pemandangan yang sangat menakjubkan, awan yang berwarna pink!

JelajahGizi23

Menikmati sunset dari atas kapal “Princess Island 1” (Foto : Nutrisi Bangsa)

Awarding Night     

Selepas menyaksikan sunset dan kembali ke Pulau Putri masih ada satu acara lagi yaitu Awarding Night, acara seru-seruan yang akan mengumumkan pemenang lomba Nutrition Hunt tadi siang. Acara yang diadakan di tepi pantai ini diawali dengan games dan yel-yel  untuk menambah point setiap grup. Kalau untuk yel-yel grup kami nyerah deh dan pemenangnya dari grup A yang memang keren. 50 point untuk mereka. Selanjutnya menebak cuplikan lagu yang dimenangkan oleh grup B yang berhasil menebak 4 lagu dengan benar. Selanjutnya tebak kata, grup B juga berhasil menebak 2 kata “Doraemon” dan “Gundala Putra Petir” dengan benar. Dan akhirnya setelah digabung dengan nilai hasil Nutrition Hunt, grup B menjadi pemenangnya dan berhak mendapat hadiah Rp 2 juta. Pemenang kedua grup D mendapat Rp 1,5 Juta dan pemenang ke-3 dan ke-4 grup C dan A yang  mendapat hadiah masing-masing Rp 500 ribu. Acara diakhiri dengan menyanyi dan joget bersama seluruh peserta.

 

JelajahGizi22

Dua hari ini kami sudah seperti anak-anak pesisir pantai. Mengarungi lautan. Diterjang ombak. Disengat matahari. Membuat masakan khas. Ya kami sudah seperti anak seribu pulau.

(bersambung)

Be Sociable, Share!

Comments are closed.