Category: Review

Bersama Putuskan Rantai Stunting di Indonesia

Memiliki anak yang sehat, cerdas dan tumbuh kembang secara optimal adalah harapan semua orang tua. Untuk mewujudkannya tentu tidalah mudah karena banyak factor pendukung yang harus dipenuhi agar anak tumbuh kembang secara optimal. Ada banyak factor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor pola asuh orang tua, factor genetic, hormon, lingkungan dan bahkan nutrisi turut andil dalam tumbuhkembang anak yang bisa dibilang sangat penting.

Nutrisi serta gizi seimbang ini salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang pada anak ini dimulai 1000 HPK ( Hari Pertama Kehidupan) yang biasa disebut dengan golden ages. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum sadar dan paham betul pentingnya 1000 HPK hal ini. Pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dalam kandungan ini akan mempengaruhi anak-anak hingga dewasa.

Jika terjadi kesalahan pemberian nutrisi pada masa 1000 HPK akan berdampak permanen misanya saja stunting dan penurunan kemampuan kognitif yang tentunya akan mempengaruhi tumbuh kembang mereka.

“Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek daripada tinggi badan anak seusianya dan stunting dikenal juga dengan sebutan kuntet”

Saat ini masalah stunting dan gizi buruk masih menjadi permasalahan gizi yang dihadapi oleh anak Indonesia yang tentunya akan berdampak serius bagi sumber daya manusia dimasa yang akan mendatang. Stunting tentunya tidak lepas dari asupan gizi dan berbicara mengenai gizi serta stunting beberapa watu lalu saya menghadiri webinar bersama Nutrisi Bangsa , Festival Isi Piringku Anak Usia 4-6 tahun dengan tema Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini.

Hal ini terungkap dalam acara webinar Festival Isi Piringku Anak Usia 4-6 Tahun yang diadakan Danone Indonesia dengan narasumber kompeten dibidangnya yaitu :
• Vera Galuh Sugijanto, VP General Secretary Danone Indonesia
• DR. Dhian Dipo, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI
• Prof. Dr. Ir. Sri Annna Marliyati, MSi, Ketua Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB dana Ketua tim penyusun modul isi piringku anak usia 4-6 tahun
• Ir. Harris Iskandar, Ph.D , Widya Prada Ahli Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
• Karyanto Wibowo, Direktur Suistainable Development Danone Indonesia
• Lisnawati S.Pd, Guru Pos Paud Cerdas

Pentingnya Kolaborasi Lintas sektor Dalam Pencegahan Stunting di Indonesia

Masalah gizi di Indonesia berdasarkan Global Nutrition report tahun 2018 Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mengalami 3 permasalahan gizi sekaligus yaitu permasalahan gizi kurang, stunting dan washing, kegemukan dan obesitas kekurangan zat gizi mikro seperti anemia namun demikian Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan dalam perbaikan permasalahan gizi terutama stunting.

Pada tahun 2018 prevalensi stunting 30,8 anak balita stunting namun tahun 2019 prevalensi pada tahun 2019 turun yaitu 27,7 % yaitu sekita 6,6 juta anak. Memang suda mengalami penurunan angka stunting ini namun masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Ya, memang mengalami penurunan namun jika dilihat dengan jumlahnya masih cukup besar anak-anak yang mengalami permasalahan gizi.

Perlu diketahui bahwa anak adlah investasi sumberdaya manusia yang memerlukan perhatian khusus untuk gizinya sejak dalam kandungan, ya sejak 1000 HPK anak butuh perhatian khusus untuk gizinya. Lalu bagaimana jika gizi tida tercukupi? Nah ini akan mengalami dampaknya.

Dampak Masalah Gizi

Anak yang gizi nya tidak tercukupi akan mengalami imunitas rendah dimana anak jadi mudah sakit seperti terpapar penyakit infeksi atau penyakit kronis akan meningkat dan jika seorang anak sering sakit maka akan berdampak pada pertumbuhannya dan kembangnya secara kognitif dan anak ini akan menjadi stunting.

Bagaimana permasalahan gizi yang terjadi pada individu yang berpengaruh pada masyarakat dengan imunitas yang rendah tentunya akan daya saing yang rendah dan menurunnya produktivitas anak-anak bangsa ini tentunya akan berpengaruh pada perputaran ekonomi.

Dampak dari masalah gizi ini menghasilkan banyak sekali kerugian, bayangkan saja jika daya saing rendah karena masalah gizi anak bangsa tida mampu bersaing dikanca global maka dari itu harus paham semua keadaan masalah gizi ini harus diatasi bersama.

Faktor Penyebab Stunting dan Masalah Gizi Pada Balita
Ada banyak factor yang mempengaruhi masalah stunting dan Gizi di Indonesia:
• 1 -4 ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali
• 1-3 bayi dari 10 tida mendapatkan ASI Ekslusif
• 42,1 % bayi dan balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap
• Tidah dipantaunya pertumbuhan balita secara rutin
• Anemia pada ibu hamil
• Balita usia 6-23 bulan tidak mendapatkan asupan makanan ( kualitas makanan pada anak balita) terutama tidak terpenuhinya asupan makanan terutama protein

Jika dilihat ada banyak factor yang menyebabkan stunting dan jika balita sejak awal terpenuhi kebutuhan gizinya dari semenjak dalam kandungan tentunya sumberdaya manusia akan tumbuh dengan optimal dan gizi pada makanan sumber yang penting untuk pertumbuhan. Ada juga penyebab factor masalah gizi pada balita yaitu masalah sosial ekonomi yaitu seperti masalah kesejahteraan, masalah sanitasi yang layak dan ketahanan pangan.

Baita akan sehat sejak awal jika dalam kandungan diberikan asupan gizi seimbang, namun pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang tidak memenuhi konsumsi sayur dan buah yang dianjurkan padahal itu sangat penting untuk kehidupan selanjutnya.

Mengenai masalah stunting dan gizi pada balita bukan hanya tugas pemerintah tetapi berbagai pihak dimana harus sinergi bersama-sama dalam perbaikan gizi masyarakat. Pemerintah pusat, Provinsi kab/ kota, Sektor swasta dan dunia usaha, akademisi dan masyarakat madani, nilai social bersama komunitas memiliki peran penting untuk percepatan perbaikan gizi.

Saat ini pandemi masih berlanjut namun perbaikan gizi juga tetap berlanjut agar percepatan perbaikan gizi segera diatasi. Untuk saat ini makanya pelayanan kesehatan masyakarat dimodifikasi sesuai dengan keadaan wilayah dan menerapkan protocol kesehatan.

Dr. Dhian berharap pada guru PAUD dimana meningkatkan perannya dalam perubahan gizi melalui pendidikan gizi kepada masyarakat. Dukungan sektor swasta juga menjadi salah satu factor penting dalam mendukung program pemerintah terutama dalam menginformasikan pesan gizi dan kesehatan.

Inisiatif Sosial Danone Indonesia untuk memutus mata rantai stunting dan anemia

Danone Indonesia salah satu yang mendukung program pemerintah mengatasi stunting di Indonesia sesuai dengan visi dan misinya lewat programnya mulai dari program Isi piringku bagaimana mengedukasi anak-anak usia 4-6 tahun untuk mengenalkan Isi piringku yang digagas oleh pemerintah, untuk remaja juga ada program Gesit , Ibu-Ibu hamil juga ada program 1000 HPK dan Cegah stunting.

Dan untuk mengedukasi mengenai Isi Piringku danone Indonesia mengadakan Festival Isi Piringku Anak usia 4-6 tahun secara nasional dengan melakukan beberapa aktivitas untuk menstimulasi yaitu ada Lomba Foto Kreasi Menu Anak, Lomba Kreativitas Guru saat Belajar daring dan Lomba Gerak dan Lagu isi Piringku.

Semua sektor harus bersinergi dan harmoni dalam permasalahan stunting dan gizi pada anak Indonesia karena akan berdampak bagi masa depan Negara dimana anak-anak ini cikal bakal generasi selanjutnya. Jika melihat dari data yang suda dipaparkan diatas saya sendiri sangat optimis jika Indonesia mampu mengatasi permasalahan ini. Saya juga berharap semoga makin banyak lagi sektor swasta yang turut berperan mengatasi masalah stunting seperti Danone Indonesia.

GESID, Program Edukasi Dari Danone Oleh Remaja Untuk Remaja

Permasalahan seputar dunia remaja dari tahun ke tahun sepertinya semakin komplek. Mulai dari masa pubertas, perubahan suara anak ke dewasa yang dialami oleh remaja laki-laki, mulai menstruasi yang dialami oleh remaja perempuan sampai adanya perubahan-perubahan lainnya. Termasuk efek turunan seperti mulai adanya perudungan atau bullying kepada remaja yang tumbuh kembang berbeda seperti stunting akibat malnutrisi, sampai permasalahan pernikahan dini di Kawasan sub urban.

Program pengentasan kasus seperti ini bukannya tidak ada. Namun sepertinya kurang mengena kepada sasaran yang dimaksud. Danone Indonesia dan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB menginisiasi program edukasi yang langsung dijalankan oleh remaja itu sendiri. Dengan mengangkat dan mengedukasi duta-duta remaja terpilih dan menyebarkan kepada teman-temannya. Rasanya cara seperti ini akan lebih masuk dan mengena bagi remaja. Karena saran atau masukan dari teman biasanya akan diterima dibandingkan dengan petuah dari orangtua atau guru.

Program edukasi yang diluncurkan adalah GESID yang merupakan kependekan dari Generasi Sehat Indonesia. Program ini memberikan panduan untuk mempersiapkan generasi emas yang isinya berupa panduan kesehatan edukasi gizi agar terbebas dari stunting, seputar kesehatan remaja, malnutrisi, sampai pendidikan karakter.

Dan untuk meluncurkan secara resmi program GESID ini Danone Indonesia mengadakan webinar dengan tema Edukasi Gizi dan Kesehatan Bagi Remaja SMP dan SMA pada 14 Desember 2020 yang diadakah via Zoom dan Live Streaming YouTube di Kanal Danone Indonesia. Rekaman ulangnya bisa ditonton lagi kok.

Webinar ini dihadiri oleh Drg. Kartini Rustandi, M.Kes  (Sesditjen Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI), Prof. Dr. Ir. Sri Anna Maryati, Msi ( Ketua Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB), Vera Galuh Sugijanto (VP general Secretary Danone Indonesia), Karyanto Wibowo (Sustainable Development Director Danone Indonesia) dan Sharla Martiza (Pemenang The Voice Kid 2017, Siswi SMA) yang dikukuhkan menjadi Duta GESID.

Dalam sambutannya Drg Kartini yang mewakili pemerintah memberikan apresiasi kepada Danone Indonesia dan FEMA IPB akan program ini. Pemerintah sangat mendukung program yang diinisiasi oleh swasta dan institusi pendidikan tinggi karena sangat membantu program pemerintah bidang kesehatan apalagi di masa pandemi Covid-19 ini.

Sementara Vera Galuh dari Danone menjelaskan bahwa program ini sesuai dengan visi perusahaan yaitu One Planet One Health. Karena ini Danone sangat termotivasi untuk turut berkontribusi dalam bidang nutrisi, kesehatan, dan lingkungan.

Ketua tim penulis buku panduan GESID Pro. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, Msi yang juga merupakan Ketua Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, menjelaskan bahwa remaja putri merupakan calon ibu di masa depan. Jadi kondisi tubuhnya harus sehat bebas stunting, karena akan melahirkan generasi baru, generasi anak-anak yang sehat dan unggul.

GESID memiliki 3 pilar, yaitu:

  1. Pilar Aku Peduli : Kepedulian bukan hanya terhadap orang lain, tapi juga diri sendiri. Salah satu hal yang biasanya luput dari perhatian pedahal sangat penting adalah menjaga kesehatan reproduksi. Menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya untuk kesehatan jangka pendek, tapi jangka panjang.
  2. Pilar Aku Sehat : Remaja membutuhkan gizi yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dengan mengonsumsi gizi seimbang setiap kali makan. Ada empat pilar gizi seimbang untuk remaja yaitu mengonsumsi beragam makanan, menjaga kebersihan, melakukan aktivitas fisik, serta menjaga berat badan ideal.
  3. Pilar Aku Bertanggung Jawab : GESID juga berfokus terhadap permasalahan pernikahan dini. Faktanya, pernikahan usia anak di Indonesia sebesar 23%. Sangat disayangkan karena ada banyak sekali dampak negatif dari pernikahan dini. Anak usia remaja seharusnya bisa mengeksplorasi kemampuan dan menjalani masa remaja dengan semestinya.

Webinar ini juga dihadiri oleh adik-adik SMP dan SMA yang sudah dibekali tentang program GESID ini. Mereka hadir sebagai Duta GESID mewakili sekolahnya masing-masing.

Karyanto Wibowo  Sustainable Development Directory Danone Indonesia mengatakan dalam sambutan penutupnya mengungkapkan harapannya semoga dengan diterbitkannya buku panduan GESID ini setidaknya dapat membantu pemerintah dalam mempersiapkan generasi emas 2045 ketika 100 tahun Indonesia merdeka dan menjadi salah satu negara maju.

Selamat! Inilah 23 Finalis Satu Indonesia Awards 2020

Program Satu Indonesia Awards kembali digelar. Walau dalam kondisi pandemi akibat mewabahnya virus Covid-19 namun program harus berjalan terus. Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-11. Saat pengumuman pun diadakan via webinar, sebagai bagian dari protokol kesehatan saat pandemi.

SATU Indonesia Awards adalah program untuk memberikan apresiasi kepada anak muda Indonesia yang memiliki program inspiratif dan bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya melalui lima bidang yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.

Anak muda identik dengan semangat dan daya juang. Dua hal itulah yang membuat anak muda menjadi tumpuan masa depan bangsa. Anak muda juga kerap diibaratkan sebagai motor penggerak. Begitu juga dengan 23 anak muda yang telah berkontribusi positif dalam membawa perubahan besar untuk masyarakat sekitarnya melalui program yang mereka lakukan. Program mereka ini sejalan dengan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020.

“Memasuki tahun kesebelas pelaksanaan SATU Indonesia Awards 2020, kami melihat banyaknya animo pemuda yang memiliki peran aktif dalam memajukan bangsa. Terhitung dari jumlah pendaftar 11th SATU Indonesia Awards 2020 telah mencapai 10.036, atau naik 15,9% dari tahun sebelumnya, angka ini secara bertahap meningkat bila dibandingkan dengan pelaksanaan pada tahun 2010 yang hanya mencapai 120 pendaftar,” tutur Chief of Corporate Affairs Astra Riza Deliansyah.

Setelah melalui lima bulan masa penjaringan anak muda yang telah berkontribusi untuk bangsa, dewan juri telah menetapkan 23 peserta finalis yang dapat melanjutkan proses penjaringan tahap akhir untuk menentukan sosok penerima apresiasi 11th SATU Indonesia Awards 2020.

Inilah 23 Finalis

Para finalis di bidang kesehatan:
1. Pencegah Stunting di Pedalaman Papua Barat, Johan A. Rahman dari Sorong, Papua Barat
2. Pengedukasi Hak Kesehatan Seksual Anak, Mariana Yunita Hendriyani Opat dari Kupang, Nusa Tenggara Timur

Finalis di bidang pendidikan:
3. Petualang Edukasi bagi Daerah Terpencil, Alfin Anwar dari Tolitoli, Sulawesi Tengah

4. Pendongeng Kreatif untuk Anak Maluku, Eklin Amtor de Fertes dari Ambon, Maluku

Finalis di bidang lingkungan:
5. Penggagas Kelompok Santri Tani Milenial, Rizki Hamdani dari Jombang, Jawa Timur
6. Penjaga Laut dari Desa Batu Putih, Umar Dani dari Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Finalis di bidang kewirausahaan:
7. Penjahit Asa Perempuan Dari Kota Padang, Elsa Maharani dari Padang, Sumatra Barat
8. Penyejahtera Petani Kopi Desa Mulyorejo, Samsul Hadi Saputra dari Jember, Jawa Timur

Finalis di bidang teknologi:
9. Pelacak Ikan Berbasis Navigasi, I Gede Merta Yoga Pratama dari Gianyar, Bali
10. Penggagas goUNBK, Sahabat Ujian Siswa, Maman Sulaeman dari Pekalongan, Jawa Tengah

Serta finalis dari kategori kelompok:
11. Penyambung Listrik Daerah Membutuhkan, Irvan Hermala dari DKI Jakarta
12. Pendamping Petani Berbasis Teknologi, Muhammad Aria Yusuf dari DKI Jakarta

Pada tahun ini, Astra menambahkan kategori khusus untuk mengapresiasi para pejuang tanpa pamrih di masa pandemi COVID-19.

Pada kategori khusus ini terdapat 11 finalis, yaitu:
1. Pendeteksi Risiko COVID-19 Lewat Aplikasi EndCorona, Arya Ananda Indrajaya Lukmana dari Cilegon, Banten.
2. Distributor Pangan bagi Kaum Membutuhkan, Dedhy Bharoto Trunoyudho, Surabaya, Jawa Timur.
3. Perangkul Guru Majukan Kualitas Pembelajaran, Galih Suci Pratama dari Semarang, Jawa Tengah.
4. Sang Garda Terdepan COVID-19, Ika Dewi Maharani dari Surabaya, Jawa Timur.
5. Penggagas Telemedicine #Say-doc, Imam Syaifulloh dari Cilacap, Jawa Tengah.
6. Penata Panggung Tanggap COVID-19, Muhammad Zidny Kafa dari Bantul, DI Yogyakarta
7. Sahabat Ibu Rumah Tangga Dari Kota Makassar, Muthmainnah Bahri dari Makassar, Sulawesi Selatan
8. Penggagas The Cube Virtual Space, Rega Oktaviana dari Bandung, Jawa Barat.
9. Penggandeng UMKM Kuliner Yogyakarta, Revo Suladasha dari Yogyakarta, DI Yogyakarta
10. Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus, Yuli Yanika dari Medan, Sumatra Utara
11. Pemberdaya UMKM Lokal Lewat Zakat, Zulrifan Noor dari Tabalong, Kalimantan Selatan

Masyarakat dapat turut memberikan dukungan kepada satu finalis favorit dari 23 finalis tersebut melalui voting online yang telah dimulai pada 5 Oktober hingga 11 Oktober 2020 melalui http://www.satu-indonesia.com/SIA2020vote.

Finalis favorit terpilih berhak mendapatkan hadiah sebesar Rp10 juta, sedangkan untuk penerima apresiasi 11th SATU Indonesia Awards 2020 tingkat nasional akan mendapat dana pembinaan Rp60 juta dan pembinaan kegiatan yang dapat dikolaborasikan dengan kontribusi sosial berkelanjutan Astra, yakni Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra. Ada pula penerima apresiasi 11th SATU Indonesia Awards 2020 tingkat provinsi.

Para finalis tersebut merupakan peserta yang lolos dari seleksi para juri sebagai berikut:
1. Prof. Emil Salim, Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia
2. Prof. Nila Moeloek, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
3. Prof. Fasli Jalal, Rektor Universitas YARSI & Guru Besar Universitas Negeri Jakarta
4. Ir. Tri Mumpuni, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA)
5. Onno W. Purbo Ph.D, Pakar Teknologi Informasi
6. Toriq Hadad, Presiden Direktur PT Tempo Inti Media Tbk
7. Riza Deliansyah, Chief of Corporate Affairs Astra
8. Boy Kelana Soebroto, Head of Corporate Communications Astra
9. Dian Sastrowardoyo, Pegiat Seni
10. Billy Boen, Pendiri Young On Top

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pemberian apresiasi 11th SATU Indonesia 2020 akan dilaksanakan secara virtual melalui channel YouTube SATU Indonesia. Tidak hanya saat penyerahan apresiasi, pada proses pendaftaran, penjaringan, penjurian telah dilaksanakan juga secara virtual.

Sebagai bentuk komitmen Astra bersungguh-sungguh mencari anak-anak muda berprestasi yang tersebar di seluruh pelosok negeri, Astra berkolaborasi dengan mitra lintas bidang yang memiliki semangat sejalan dengan Astra untuk menggerakkan generasi muda Indonesia memajukan bangsa.

Untuk tahun ini, Astra kembali menggandeng Tempo, Antara, dan Kumparan sebagai mitra penjaringan para finalis. Serta pertama kalinya Astra bekerjasama dengan Young On Top dan IDN Times untuk menjaring lebih banyak anak muda yang berkontribusi positif. Semangat para pemuda yang telah berkontribusi positif untuk masyarakat sekitarnya sejalan dengan cita-cita Astra sejahtera bersama bangsa.

Cara Mudah Terapkan Gizi Seimbang Untuk Anak Selama Di Rumah Saja

Ada masanya dimana seorang anak tiba-tiba mogok makan. Keadaan tersebut seringkali membuat seorang ibu bingung dan khawatir. Terutama pada anak usia 1-3 tahun dimana pada saat itu anak sedang aktif bermain sehingga membutuhkan asupan gizi yang baik untuk tumbuh kembangnya. Pada masa pandemi ini ruang gerak anak sangat dibatasi dengan berkegiatan di rumah saja. Keadaan ini sangat mempengaruhi keseimbangan emosi anak sehingga dapat memunculkan perilaku yang tidak biasa termasuk selera makan yang berkurang karena stress.

Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia mengadakan webinar Bicara Gizi dengan tema: Biasakan Anak Terapkan Gizi Seimbang Selama Dirumah Aja. Orangtua dalam hal ini ibu akan dituntut untuk kreatif dalam menyiapkan makanan keluarga terutama anak agar gizi hariannya terpenuhi. Dalam kesempatan ini dihadirkan pembicara dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinis, Putu Andani, M.Psi, Psikolog Anak dari Tiga Generasi, dan Soraya Larasati seorang ibu dengan gaya hidup sehat.

 

View this post on Instagram

 

Seneng banget bisa ikutan acara webinar #BicaraGizi yang diadakan oleh @nutrisibangsa yang membahas tentang #GiziSeimbangNUB Jadi selama tinggal di rumah selama pandemi, kita perlu menjaga keseimbangan gizi anak agar tidak mudah terpapar penyakit dan juga dapat memperkuat imun agar tahan terhadap virus. Kebosanan selama di rumah dapat diatasi dengan mengajak si kecil untuk ikut menentukan menu, bahkan ikut membantu memasak. “Selama masa berkegiatan di rumah, orang tua memiliki peran penuh dalam mengawasi tumbuh kembang anak yang optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia memperkuat edukasi untuk orang tua mengenai cara membiasakan anak untuk menerapkan gizi seimbang selama di rumah saja, mulai dari memberikan makanan bervariasi dan pengalaman menyenangkan saat makan, serta menjaga kondisi psikis anak dan juga orang tua agar tumbuh kembang anak tetap terjaga,” ungkap Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia.

A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on

“Selama masa berkegiatan di rumah, orang tua memiliki peran penuh dalam mengawasi tumbuh kembang anak yang optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia memperkuat edukasi untuk orang tua mengenai cara membiasakan anak untuk menerapkan gizi seimbang selama di rumah saja, mulai dari memberikan makanan bervariasi dan pengalaman menyenangkan saat makan, serta menjaga kondisi psikis anak dan juga orang tua agar tumbuh kembang anak tetap terjaga,” ujar Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia, saat membuka webinar Bicara Gizi.

Selanjutnya dalam rangka pemenuhan gizi seimbang anak, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinis, menjelaskan bahwa gizi seimbang dapat dicapai apabila makanan yang dikonsumsi dalam jumlah cukup, berkualitas baik, dan beragam jenisnya untuk memenuhi berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. “Agar anak mendapatkan gizi seimbang, kebutuhan akan nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) harus dipenuhi. Namun, membuat anak mau mengonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisinya juga bukan perkara mudah. Saat di rumah saja, anak cenderung cepat bosan dan memilih makanan yang mereka sukai saja. Hal ini bisa berdampak pada kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal.”

“Selain porsi, variasi dan jadwal makan juga perlu diperhatikan untuk mengoptimalkan manfaat nutrisi yang dikonsumsi sesuai kebutuhan anak. Sebagai contoh, olahan protein nabati dari kacang-kacangan seperti olahan soya bisa dijadikan alternatif variasi dalam menu gizi seimbang. Terutama nutrisi untuk anak berbasis soya yang difortifikasi, dapat menjadi pilihan ibu karena dapat dikonsumsi oleh siapa saja, tidak hanya terbatas pada anak dengan kondisi medis tertentu,” ujar dr. Juwalita.
Mensiasati kesulitan makan pada anak bisa dipenuhi dengan pemberian makanan selingan yang menunjang asupan makanan pokok agar pemenuhan gizi harian anak tercapai. Olahan protein nabati seperti es mambo kacang hijau lebih dapat menarik selera dan cocok untuk anak yang mengalami intoleransi laktosa. Ibu dapat berkreasi dengan olahan bahan pangan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia guna mengisi kegiatan di rumah saja.
Faktor stress pada anak juga mengakibatkan menurunnya selera makan. Ada istilah GTM atau Gerakan Tutup Mulut yang dilakukan anak untuk menolak sama sekali makanan yang disiapkan untuknya. Pembatasan ruang gerak pada saat pandemic, hampir tidak pernah bertemu dengan teman atau sanak saudara dan meniadakan kegiatan rekreasi keluar menyebabkan anak dilanda kebosanan. Hal ini dapat menjadi factor pemicu akhirnya anak tidak mau makan.
“Tanpa disadari, kondisi psikis orang tua dan anak saling berkaitan. Stres berkepanjangan yang tidak diolah dengan baik dapat memengaruhi perilaku makan anak di rumah. Padahal asupan nutrisi adalah sumber pertahanan imun untuk saat ini. Untuk itu, orang tua perlu memantau mood anak dengan baik di samping mengelola stresnya sendiri. Salah satu cara mengatasi rasa bosan anak adalah dengan mencoba keterampilan atau pengalaman baru dengan interaksi yang menyenangkan bersama anggota keluarga. Melibatkan anak dalam menyiapkan menu gizi seimbang sesuai dengan usia dan kemampuan anak bisa menjadi alternatif kegiatan menyenangkan yang juga edukatif,” papar Putu Andani, M.Psi, Psikolog Anak dari Tiga Generasi.

Kesehatan mental ibu/ayah sangat penting untuk menghadirkan kebahagiaan di rumah dengan memberi waktu untuk diri sendiri (self care) untuk me-recharge mental dan meminta bantuan support system (orang2 sekeliling yang dapat membantu). Ketenangan psikis orangtua akan juga berpengaruh dalam mengatasi stress pada anak.
Berbagi pengalaman mengenai membiasakan gizi seimbang selama beraktivitas di rumah, Soraya Larasati yang juga seorang ibu yang menerapkan hidup sehat menuturkan bahwa situasi saat ini membuatnya khawatir si Kecil akan bosan dengan menu makanan sehat di rumah. “Saya belajar untuk kreatif dalam menyajikan makanan maupun menyiapkan berbagai kegiatan agar anak tidak bosan di rumah saja. Selain saya ajak anak terlibat dalam menyiapkan makanan, saya juga mengenalkan anak dengan sumber nutrisi yang belum pernah ia coba. Saya sering membuatkan menu makanan nabati. Ragam makanan nabati yang sangat bervariasi dari jenis kacang-kacangan dan sayuran baik untuk dikenalkan pada anak-anak. Biasanya, saya lengkapi dengan nutrisi untuk anak berbasis soya yang difortifikasi dengan serat, vitamin, dan mineral lainnya karena nutrisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak. Saya percaya bahwa pangan nabati sama pentingnya dengan pangan hewani.” cerita Soraya.

“Melalui kegiatan Bicara Gizi yang diselenggarakan secara virtual ini, kami berharap dapat mengedukasi para orang tua tentang pemenuhan gizi seimbang pada anak dengan mengatur pola makan, pemberian nutrisi yang cukup, dan olahraga yang rutin,” tutup Arif Mujahidin.