Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum

Demikian diungkapkan oleh M.A.R Brouwer (1923-1991) , seorang budayawan asal Belanda yang banyak menghabiskan waktunya di Indonesia mengungkapkan keindahannya tentang Bumi Pasundan atau Priangan. Ungkapan ini juga disitir oleh Gubernur Jawa Barat Bapak Ahmad Heryawan saat menerima tim FamTrip Ciletuh Palabuhanratu pada tanggal 25 Agustus 2016 lalu.

Gubernur yang akrab dipanggil Pak Aher tersebut mengungkapkan potensi Jawa Barat terutama bidang wisata alam sangat melimpah, namun masih belum banyak diekplorasi terutama untuk kawasan di selatan Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, dan Pangandaran.

Bersamaan dengan akan diadakannya Festival Geopark Ciletuh Palabuhanratu yang diadakan pada 27-28 Agustus 2016, beberapa blogger baik dari Indonesia dan luar negeri, beserta media dan tim dari pemerintah dan penggiat wisata, akan berkunjung ke kawasan tersebut dan menikmati fenomena alam seperti geopark yang sudah terbentuk selama ribuan tahun lalu. Teristimewa perjalanan kali ini akan dimulai dari Bandung bagian selatan yaitu Ciwidey lalu tembus ke Cidaun hingga Ujunggenteng. Menurut Pak Aher jalur ini merupakan jalur “anti-mainstream” karena biasanya orang menuju Ciletuh melalui Palabuhanratu, sementara ini akan dilalui dari Bandung dan melewati jalur-jalur yang luar biasa.

Ready to Explore Ciletuh Geopark with travel blogger Singapore @sunriseodyssey and Indonesia @timo_wp @bangaswi

A photo posted by Harris Maulana (@harrismaul) on

Keesokan harinya jumat 26 Agustus 2016 perjalanan dimulai. Selepas adzan shubuh kami berangkat membelah kota Bandung yang masih berselimut kabut menuju Rumah Makan Sindang Reret Ciwidey untuk sarapan pagi. 

Setelah mengisi perut perjalanan kembali dilanjutkan. Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Kawah Putih. Dengan kondisi lokasi yang masih berselimut kabut dan dingin yang membuat tangan kaku, kami mengeksplorasi kawah yang dihasilkan dari letusan Gunung Patuha beberapa waktu lalu. Bau belerang yang cukup menyengat tidak mengurangi keinginan untuk tetap dilokasi sampai cuaca agak cerah. Dan akhirnya angin datang cukup kencang dan menghilangkan kabut sehingga suasana Kawah Putih dapat terlihat dengan jelas.

Perjalanan kembali dilanjutkan melewati perkebunan teh Rancabali. Kebun teh tersusun rapi dan begitu hijau di daerah Ciwalini tempat dimana teh WALINI berasal. Kami sempat berhenti dulu ditengah-tengah perkebunan untuk mengabadikan keindahan kebun teh dan suasana asri disekitarnya.

Setelah puas mengekplorasi perjalanan dilanjutkan ke Situ Patenggang. Dengan kondisi jalan yang cukup sempit dan berkelok-kelok tepat jam 10 pagi kita sudah sampai di lokasi. Saat itu lokasi masih sepi, sehingga suasana yang didapat begitu romantik dengan air danau yang tenang dan udara yang dingin. Sudah ada kawasan untuk glamping (glamour camping) dan restoran yang berbentuk perahu yang baru saja diresmikan beberapa waktu lalu. Hal ini tentu akan menarik minat para wisatawan.

Perjalanan harus kembali dilanjutkan karena destinasi utama yaitu Ciletuh masih harus ditempuh beberapa jam. Kami sempat beristirahat sholat jumat dan makan siang di kawasan Curug Ceret. Setelah itu perjalanan nonstop sampai bertemu laut di Cidaun. Kondisi jalan memang masih kurang ideal karena jalan masih sempit dan pada beberapa lokasi ada yang rusak. Namun setelah Curug Ceret jalanan agak lebar dapat dilalui dua kendaraan. Tapi kondisi kontur sungguh luar biasa, terutama pada beberapa belokan patah ada yang hingga 180 derajat dengan kondisi jalan yang naik atau turun tajam. Inilah yang dikatakan Pak Gubernur sebagai jalur anti-mainstream, jalur cape, biar mengeluh dalam perjalanan. Kondisi ini wajar karena kita berjalan dari kawasan pegunungan hingga menuju daerah laut. Namun untuk kenyamanan penumpang sebaiknya pada beberapa titik tikungan tersebut lebih diperhalus.

Menjelang malam kami sudah sampai di Cidaun dan sudah dapat melihat laut ditepi jalan raya. Saat sunset kami masih dalam perjalanan di kawasan Jampang Kulon. Dan akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 7 jam kami sampai di Ujunggenteng tepat jam 7 malam. Setelah makan malam dan cek-in di Villa Ujang, masih ada satu destinasi yang akan dikunjungi yaitu tempat pendaratan penyu di Pantai Pangumbahan. Jam 10 malam kami sudah tiba di lokasi dan melihat secara langsung penyu yang sedang bertelur. Dapat dikatakan kami cukup beruntung karena biasanya penyu tersebut akan bertelur sekitar jam 12 malam sampai jam 2 pagi. Namun malam itu, penyu tersebut bertelur lebih cepat dari biasanya.

Kami segera kembali ke penginapan setelah proses penyu bertelur berakhir dan bersiap untuk mengeksplorasi Geopark Ciletuh esok hari.

Berikutnya >>> Geopark Ciletuh Palabuhanratu Menuju Geopark Global UNESCO

Be Sociable, Share!

Leave a Reply