Bersama Putuskan Rantai Stunting di Indonesia

Memiliki anak yang sehat, cerdas dan tumbuh kembang secara optimal adalah harapan semua orang tua. Untuk mewujudkannya tentu tidalah mudah karena banyak factor pendukung yang harus dipenuhi agar anak tumbuh kembang secara optimal. Ada banyak factor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor pola asuh orang tua, factor genetic, hormon, lingkungan dan bahkan nutrisi turut andil dalam tumbuhkembang anak yang bisa dibilang sangat penting.

Nutrisi serta gizi seimbang ini salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang pada anak ini dimulai 1000 HPK ( Hari Pertama Kehidupan) yang biasa disebut dengan golden ages. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum sadar dan paham betul pentingnya 1000 HPK hal ini. Pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dalam kandungan ini akan mempengaruhi anak-anak hingga dewasa.

Jika terjadi kesalahan pemberian nutrisi pada masa 1000 HPK akan berdampak permanen misanya saja stunting dan penurunan kemampuan kognitif yang tentunya akan mempengaruhi tumbuh kembang mereka.

“Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek daripada tinggi badan anak seusianya dan stunting dikenal juga dengan sebutan kuntet”

Saat ini masalah stunting dan gizi buruk masih menjadi permasalahan gizi yang dihadapi oleh anak Indonesia yang tentunya akan berdampak serius bagi sumber daya manusia dimasa yang akan mendatang. Stunting tentunya tidak lepas dari asupan gizi dan berbicara mengenai gizi serta stunting beberapa watu lalu saya menghadiri webinar bersama Nutrisi Bangsa , Festival Isi Piringku Anak Usia 4-6 tahun dengan tema Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini.

Hal ini terungkap dalam acara webinar Festival Isi Piringku Anak Usia 4-6 Tahun yang diadakan Danone Indonesia dengan narasumber kompeten dibidangnya yaitu :
• Vera Galuh Sugijanto, VP General Secretary Danone Indonesia
• DR. Dhian Dipo, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI
• Prof. Dr. Ir. Sri Annna Marliyati, MSi, Ketua Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB dana Ketua tim penyusun modul isi piringku anak usia 4-6 tahun
• Ir. Harris Iskandar, Ph.D , Widya Prada Ahli Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
• Karyanto Wibowo, Direktur Suistainable Development Danone Indonesia
• Lisnawati S.Pd, Guru Pos Paud Cerdas

Pentingnya Kolaborasi Lintas sektor Dalam Pencegahan Stunting di Indonesia

Masalah gizi di Indonesia berdasarkan Global Nutrition report tahun 2018 Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mengalami 3 permasalahan gizi sekaligus yaitu permasalahan gizi kurang, stunting dan washing, kegemukan dan obesitas kekurangan zat gizi mikro seperti anemia namun demikian Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan dalam perbaikan permasalahan gizi terutama stunting.

Pada tahun 2018 prevalensi stunting 30,8 anak balita stunting namun tahun 2019 prevalensi pada tahun 2019 turun yaitu 27,7 % yaitu sekita 6,6 juta anak. Memang suda mengalami penurunan angka stunting ini namun masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Ya, memang mengalami penurunan namun jika dilihat dengan jumlahnya masih cukup besar anak-anak yang mengalami permasalahan gizi.

Perlu diketahui bahwa anak adlah investasi sumberdaya manusia yang memerlukan perhatian khusus untuk gizinya sejak dalam kandungan, ya sejak 1000 HPK anak butuh perhatian khusus untuk gizinya. Lalu bagaimana jika gizi tida tercukupi? Nah ini akan mengalami dampaknya.

Dampak Masalah Gizi

Anak yang gizi nya tidak tercukupi akan mengalami imunitas rendah dimana anak jadi mudah sakit seperti terpapar penyakit infeksi atau penyakit kronis akan meningkat dan jika seorang anak sering sakit maka akan berdampak pada pertumbuhannya dan kembangnya secara kognitif dan anak ini akan menjadi stunting.

Bagaimana permasalahan gizi yang terjadi pada individu yang berpengaruh pada masyarakat dengan imunitas yang rendah tentunya akan daya saing yang rendah dan menurunnya produktivitas anak-anak bangsa ini tentunya akan berpengaruh pada perputaran ekonomi.

Dampak dari masalah gizi ini menghasilkan banyak sekali kerugian, bayangkan saja jika daya saing rendah karena masalah gizi anak bangsa tida mampu bersaing dikanca global maka dari itu harus paham semua keadaan masalah gizi ini harus diatasi bersama.

Faktor Penyebab Stunting dan Masalah Gizi Pada Balita
Ada banyak factor yang mempengaruhi masalah stunting dan Gizi di Indonesia:
• 1 -4 ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali
• 1-3 bayi dari 10 tida mendapatkan ASI Ekslusif
• 42,1 % bayi dan balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap
• Tidah dipantaunya pertumbuhan balita secara rutin
• Anemia pada ibu hamil
• Balita usia 6-23 bulan tidak mendapatkan asupan makanan ( kualitas makanan pada anak balita) terutama tidak terpenuhinya asupan makanan terutama protein

Jika dilihat ada banyak factor yang menyebabkan stunting dan jika balita sejak awal terpenuhi kebutuhan gizinya dari semenjak dalam kandungan tentunya sumberdaya manusia akan tumbuh dengan optimal dan gizi pada makanan sumber yang penting untuk pertumbuhan. Ada juga penyebab factor masalah gizi pada balita yaitu masalah sosial ekonomi yaitu seperti masalah kesejahteraan, masalah sanitasi yang layak dan ketahanan pangan.

Baita akan sehat sejak awal jika dalam kandungan diberikan asupan gizi seimbang, namun pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang tidak memenuhi konsumsi sayur dan buah yang dianjurkan padahal itu sangat penting untuk kehidupan selanjutnya.

Mengenai masalah stunting dan gizi pada balita bukan hanya tugas pemerintah tetapi berbagai pihak dimana harus sinergi bersama-sama dalam perbaikan gizi masyarakat. Pemerintah pusat, Provinsi kab/ kota, Sektor swasta dan dunia usaha, akademisi dan masyarakat madani, nilai social bersama komunitas memiliki peran penting untuk percepatan perbaikan gizi.

Saat ini pandemi masih berlanjut namun perbaikan gizi juga tetap berlanjut agar percepatan perbaikan gizi segera diatasi. Untuk saat ini makanya pelayanan kesehatan masyakarat dimodifikasi sesuai dengan keadaan wilayah dan menerapkan protocol kesehatan.

Dr. Dhian berharap pada guru PAUD dimana meningkatkan perannya dalam perubahan gizi melalui pendidikan gizi kepada masyarakat. Dukungan sektor swasta juga menjadi salah satu factor penting dalam mendukung program pemerintah terutama dalam menginformasikan pesan gizi dan kesehatan.

Inisiatif Sosial Danone Indonesia untuk memutus mata rantai stunting dan anemia

Danone Indonesia salah satu yang mendukung program pemerintah mengatasi stunting di Indonesia sesuai dengan visi dan misinya lewat programnya mulai dari program Isi piringku bagaimana mengedukasi anak-anak usia 4-6 tahun untuk mengenalkan Isi piringku yang digagas oleh pemerintah, untuk remaja juga ada program Gesit , Ibu-Ibu hamil juga ada program 1000 HPK dan Cegah stunting.

Dan untuk mengedukasi mengenai Isi Piringku danone Indonesia mengadakan Festival Isi Piringku Anak usia 4-6 tahun secara nasional dengan melakukan beberapa aktivitas untuk menstimulasi yaitu ada Lomba Foto Kreasi Menu Anak, Lomba Kreativitas Guru saat Belajar daring dan Lomba Gerak dan Lagu isi Piringku.

Semua sektor harus bersinergi dan harmoni dalam permasalahan stunting dan gizi pada anak Indonesia karena akan berdampak bagi masa depan Negara dimana anak-anak ini cikal bakal generasi selanjutnya. Jika melihat dari data yang suda dipaparkan diatas saya sendiri sangat optimis jika Indonesia mampu mengatasi permasalahan ini. Saya juga berharap semoga makin banyak lagi sektor swasta yang turut berperan mengatasi masalah stunting seperti Danone Indonesia.

Be Sociable, Share!

Comments are closed.